Sri Sugiastuti

Mendidik dengan hati, berdakwah lewat tulisan, membaca dengan kaca mata 5 dimensi,selalu ingin berbagi dan menjaga silahturahmi. Tulisan adalah warisan yang ber...

Selengkapnya
ADA TAMU DI RUMAH PAK KANJENG

ADA TAMU DI RUMAH PAK KANJENG

Ada Tamu di Rumah Pak Kanjeng

Oleh: Sri Sugiastuti

Bu Kanjeng mempercepat langkahnya keluar dari masjid,karena ada Sinta gadis kecil anak tetangga nya yang mengabarkan ada tamu di rumah nya. Terpaksa tilawah yang baru dapat 3 lembar dari juz 15 disudahi. Batinnya bertanya siapa ya tamu yang menyempatkan waktu nya di saat selesai tarawih seperti ini.

Alhamdulillah, Pak Kanjeng sudah tiba di rumah lebih dulu dan !enemui tamu yang baru datang. Ternyata yang datang adik sepupu Pak Kanjeng yang tinggalnya 15 Km barat Solo. Mereka suami istri yang telat menikah dan hingga kini belum dikaruniai anak.Mungkin sebulan yang lalu Anto kami biasa memanggilnya pernah ke rumah sekedar silahturahmi dan ketika pulang Pak Kanjeng memberikan salam tempel berupa uang lembaran merah.

Pikiran kotor Bu Kanjeng langsung nyambung pasti ada sesuatu yang penting dan serius nih. Setelah bersalaman Bu Kanjeng masuk ke dalam mengeluarkan makanan yang dimiliki. Kebetulan tadi dapat jatah !embuat makanan untuk jamaah yang tadarus di masjid, ada juga pisang goreng dan tape goreng yang tadi terhidang untuk berbuka puasa. Sedang asyik ngobrol tiba-tiba lampu mati. Akhirnya kami ngobrol dalam gelap.

Obrolan kami berkisar pada suasana Ramadan dan adanya peningkatan ibadah yang mereka lakukan. Saya dan pak Kanjeng sangat bersyukur mengingat si Anto itu di masa muda hatinya jauh dari masjid. Bisa dikatakan malah salah asuhan. Ketika ia masih di dalam kandungan, sang ayah berada dalam tahanan politik. Ibunya menikah lagi dan Anto dititipkan ke budenya.

Mereka juga berbagi tentang kehidupan nya di desa dan kegiatan yang dilakukan tak jauh dari berserah diri pada Allah SWT. Melihat gelagat mereka mau berpamitan, Pak Kanjeng memberi kode agar saya memberi mereka salam tempel seperti yang sudah- sudah. Saya pun masuk untuk mengambil uang yang akan saya masukkan ke amplop.

Ketika pak Kanjeng keluar kamar mau menyerahkan amplop itu, si Anto malah mengajak kami bicara serius.

" Begini mas, mba sebenarnya kedatangan kami kesini selain silahturahmi juga ada urusan yang sangat penting." Ini firasat tidak baik. Bu Kanjeng langsung menduga.

Anto mengeluarkan catatan dan segebok uang yang yang jumlahnya 5 juta. Ia pun mulai cerita kalau hati Senin besok ia harus membayar utang yang jumlahnya 7,8 juta. Uangnya saat ini baru 5 juta.itu pun hasil mengumpulkan dan sebagian dari pinjam sana sini. Bu Kanjeng langsung memotong pokok permasalahan yang mereka hadapi.

" Kami terjerat utang bank plecit.Bank harian yang door to door datang ke rumah. Selain itu kami juga pinjam uang di koperasi RW yang buka tiap hari Ahad. Kami terjebak tutup lubang galian lubang." Jelasnya .

" Jadi maumu gimana? Apa yang bisa mba bantu?" Tanya Bu Kanjeng.

" Mohon dipinjami 2 juta. Nanti habis lebaran saya cicil. Dan tolong Dik Nur istri saya dinasehati supaya tidak pinjam ke bank plecit lagi."

Bu Kanjeng manager Rumah tangga langsung mikir, mau diambilkan dana dari mana, sementara uang TPG yang baru cair seminggu yang lalu setelah dikeluarkan zakatnya sudah diamankan dalam bentuk lain. Gajian juga belum. Mungkin uang buku yang dikumpulkan beberapa hari lalu bisa dipakai dulu. Hanya. dari situ gambaran Bu Kanjeng membantu mereka.

" Ya sudah tunggu sebentar dari pada bolak-balik balik, ini mba gesek sebentar ke ATM." Bismillah tidak perlu mikir lama mungkin kalau Bu Kanjeng dalam posisi seperti itu pasti merasakan hal yang sama.

Setelah menerima uang tersebut Bu Kanjeng langsung menjelaskan. Itu uang 2 juta. Besok yang dikembalikan 1,5 saja yang 500 rb. Insyaallah ada Sedekah dari hamba Allah. Tapi janji ke depan nya lagi hati-hati jangan berurusan dengan bank plecit maupun yang berkedok koperasi tapi malah memberatkan.

" Iya mba saya kapok dan tidak mau lagi pinjam di Bank harian yang membuat hati tidak tenang."

" Sudah saatnya selalu mendekat pada Allah.Langkah kalian ke masjid untuk shalat berjamaah jamaah dan ikut membersihkan masjid bisa jadi amalan dan membuka pintu rezeki. Jangan pernah ragu dengan janji Allah'" Bu Kanjeng berpesan sebelum mereka berpamitan.

Setelah mereka pulang, Bu Kanjeng langsung berflashback ria.

" Kita dulu ketika anak-anak masih kecil juga sering jadi pemain sirkus ya Pak, pinjam sana sini untuk memenuhi kebutuhan anak-anak anak." Pak Kanjeng tersenyum pahit karena merasa saat itu ia menyerahkan semua urusan itu pada Bu Kanjeng yang dianggap sangat luwes dan bisa menepati janji.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bank plecit atau bank harian , wajah baru dari riba yang berbentuk koperasi...njih bunda ? Allah jelas-jelas melarang hal itu. Sama bunda, kami juga sering main sirkus, alhamdulillah koperasi sekolah sangat membantu. Seperti sudah tahu saja giliran masing-masing guru untuk meminjam. Dari mulai membayar uang sekolah,uang kuliah atau sebagian juga ada yang untuk sewa rumah, pokoknya koperasi sekolah sangat membantu. Salam sehat dan sukses selalu...ya bunda. Barakallah.

03 Jun
Balas

Iya Bu Nana, kedatangan tamu semalam jadi berarti dan mengingatkan kita bahwa kita pernah mengalami masa-masa sulit. Untungnya berhati- hati sehingga tidak tutup lubang. Terimakasih untuk apresiasi nya Salam Literasi

03 Jun

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali