Sri Sugiastuti

Mendidik dengan hati, berdakwah lewat tulisan, membaca dengan kaca mata 5 dimensi,selalu ingin berbagi dan menjaga silahturahmi. Tulisan adalah warisan yang ber...

Selengkapnya
ADAB BERHUTANG

ADAB BERHUTANG

Adab Berhutang

Oleh Sri Sugiastuti

Idealnya orang hidup itu tidak punya hutang. Karena Allah akan menunda hisab orang meninggal karena masih berhutang, Kalau pun terpaksa terlibat utang piutang, harus cermat dalam melaksanakannya, jangan sampai ada yang dirugikan dari kedua belah pihak.

Kenyataan saat ini begitu mudahnya orang diberi kepercayaan berhutang. Dan cara yang dilakukan dari tahun ke tahun semakin ngawur. Contohnya banyaknya perusahaan atau perorangan yang melakukan hal yang serupa.

Terpapar jelas di QS.Al- Baqarah 2;282 Tentang hutang piutang, banyak diamalkan oleh orang non Islam. Mereka selalu mencatat semua aktivitas hutang piutang dengan sedetail-detailnya. Sedangkan kita yang mengaku orang Islam jarang mengamalkan ayat ini. Kita terlalu percaya dan yakin bahwa orang yang pinjam kepada kita akan mengembalikan apa yang dipinjam sesuai dengan janjinya. Padahal banyak orang yang hutang kalau ditagih mengelak, dan menghindar atau pura-pura lupa . Sedang kita yang dihutangi mau nagih sungkan. Padahal kalau kita mau mengamalkan Ayat ini dengan sebaik-baiknya. Maka tidak ada yang terdzolimi. Ayat ini untuk menghindari fitnah.. Oleh sebab itu dalam hutang piutang harus dicatat dan ada saksinya.

Orang yang punya hutang dan sebenarnya bisa membayar hutangnya tetapi tidak mau membayar, boleh dijatuhkan martabatnya. Dan diumumkan bahwa orang ini punya hutang sekian dan tidak mau membayar. Kalau mereka tidak mau membayar kita juga boleh mengambil hartanya yang senilai dengan hutangnya dan kita bawa pulang.

Urusan berhutang ini dihadapan Allah termasuk urusan yang berat, karena berhubungan dengan manusia. Allah tidak akan mengampuni dosa orang yang mendzolimi orang lain, sebelum orang itu memperoleh maaf dari orang yang didzolimi itu.

Sebagai contoh lain. Ada seorang pelacur pria yang mengidap HIV dan meminta saran pada seorang ustadz, apa yang harus dilakukan untuk menghapus dosa-dosanya. Maka sang ustadz memberi saran agar dia meminta maaf pada suami-suami yang istrinya pernah digaulinya. Apakah itu suatu hal yang mudah ? Apakah dia masih ingat wanita-wanita yang digaulinya? Apakah para suami itu mau memaafkannya?

Orang yang meninggal dunia dan masih meninggalkan hutang, perhitungan hisabnya pun tertunda. Maka pentingnya kita mencatat dan memberi tahu keluarga kita tentang catatan hutang kita, agar ahli waris bisa segera menyelesaikan hutang tersebut sebelum harta peninggalan orang yang meninggal ini menjadi milik ahli waris.

Maaf karena saat ini banyak sekali istri-istri yang berhutang tanpa sepengetahuan suami atau sebaliknya suami yang berhutang tanpa sepengetahuan istri. Dan ketika salah satu dari mereka meninggal ada orang menagih hutang. Kalau ada catataan dan saksi akan lebih mudah penyelesaiannya. Tapi kalau tanpa saksi dan tanpa catatan, maka akan menimbulkan fitnah yang masih hidup dan terganjalnya hisab bagi yang meninggal dunia.

Dalam hal ini perlunya kita mengamalkan QS. Ali Imran 3:133-134.

133. Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,134. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

Yaa Allah saya memaafkan orang yang mendzolimi diri saya dan semoga Allah pun memaafkan dosa saya. Kita segera meminta ampunan dan memaafkan kesalahan orang lain. Karena Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan. Kalau kita bisa melaksanakan itu, Allah menjanjikan surga seluas langit dan bumi. Subhannallah.

Dan yang terakhir yang harus kita renungkan, bahwa sesungguhnya hati ini jika sudah ternoda amat sulit untuk kembali bersih. Bagaikan kaca yang retak, walau sudah diisolasi dan ditutupi tetap saja akan membekas. Tidak akan kembali seperti semula. Dan hal ini akan menghilangkan rasa kasih sayang. Maka penting sekali kita jaga hati kita, hati keluarga kita, hati orang-orang yang dekat dengan kita, hati para tetangga, agar tetap terjaga. Jangan sampai kita melukai perasaan mereka. Karena kita juga tidak ingin hati kita terluka.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Sama 2 semoga bermanfaat

05 Oct
Balas

terimakasih pencerahannya Bunda......

05 Oct
Balas

Jazakumullah khoiron katsiro, bunda. Hakikatnya, menjaga hati orang lain sama dengan menjaga hati kita sendiri. Salam sehat dan sukses selalu buat bunda. Barakallah.

06 Oct
Balas

Berbagi pengetahuan dan sekaligus mengingatkan diri sendiri. Sehat dan semangat selalu Bu Nana

06 Oct

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali