Sri Sugiastuti

Mendidik dengan hati, berdakwah lewat tulisan, membaca dengan kaca mata 5 dimensi,selalu ingin berbagi dan menjaga silahturahmi. Tulisan adalah warisan yang ber...

Selengkapnya
CONTOH LATAR BELAKANG MASALAH  ( BAB 1 )

CONTOH LATAR BELAKANG MASALAH ( BAB 1 )

Bahasa Inggris berfungsi sebagai alat untuk komunikasi di dalam masyarakat yang menggunakannya. Pengguna bahasa Inggris akhir-akhir ini semakin meluas. Untuk itu penguasaan bahasa Inggris ini penting dikuasai oleh masyarakat yang di dalam kehidupan sosialnya nanti akan dituntut menggunakan dalam berkomunikasi satu sama lain. Pengertian berkomunikasi adalah memahami dan mengungkapkan informasi, pikiran, perasaan serta mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya dengan menggunakan bahasa tersebut. Kemampuan berkomunikasi dalam pengertian yang utuh adalah kemampuan berwacana, yakni kemampuan memahami dan atau menghasilkan teks lisan dan atau tulis yang terealisasikan dalam empat keterampilan berbahasa, yakni mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis. Keempat ketrampilan itulah yang digunakan untuk menanggapi maupun menciptakan wacana dalam kehidupan bermasyarakat.

1

Sesuai dengan rasional fungsi bahasa tersebut di atas, pendidikan bahasa Inggris tingkat SMK yang pada saat para siswa lulus dari jenjang tersebut mereka ditargetkan untuk memiliki tingkat literasi atau kewicaraan informational. Pada tingkatan ini, oleh mampu mengakses pengetahuan dengan kemampuan berbahasa, maka pendidikan bahasa Inggris diarahkan untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan tersebut agar lulusan mampu bekomunikasi atau berwacana (Depdiknas 2004:2-3).

Untuk mampu berwacana sebagaimana disebutkan di atas, diperlukan kompetensi tindak bahasa, kompetensi linguistik, kompetensi sosio kultural, kompetennsi strategi dan kompetensi piranti pembentuk wacana. Dari kelima kompetensi tersebut, kompetensi sosio kultural adalah kompetensi yang sulit dapat dicapai oleh siswa yang belajar bahasa asing karena siswa tidak berada di antara orang-orang yang memiliki kultur bahasa tersebut. Kompetensi sosio kultural adalah kompetensi yang menuntut siswa untuk dapat mendemonstrasikan baik pengetahuan serta tingkah lakunya tentang kelompok masyarakat lain yang memiliki kultur yang bersangkutan (http://www.apa.org/pi/oema/guide.html).

Siswa kelas 2-O-1 SMK Tunas Pembangunan 2 Surakarta memiliki kompetensi bahasa Inggris yang cukup baik. Hal ini terlihat dari rata-rata pencapaian nilai Ujian Tengah Semester (UTS) I tahun pelajaran 2010/2011 yang mencapai 74,5. Namun kompetensi yang disentuh dalam tes tersebut masih terbatas pada kompetensi linguistik, kompetensi tindak bahasa (membaca dan menulis), kompetensi strategi dalam menulis, serta sedikit kompetensi piranti pembentuk wacana, sedangkan kompetensi sosio kultural tidak disentuh sama sekali, sehingga hasil yang menunjukkan kompetensi bahasa Inggris yang bagus tadi belum menjamin pencapaian kompetensi wacana secara keseluruhan.

Dalam berkomunikasi dengan siswa dalam bahasa Inggris, saya merasakan hal-hal yang tidak nyaman manakala saya menemui beberapa siswa berbahasa Inggris dengan tidak menggunakan kultur bahasa Inggris yang benar. Sebagai contoh, banyak siswa yang memanggil saya dengan sebutan mister tanpa mengikutinya dengan nama belakang saya. Selain itu, attitude atau tingkah laku mereka dalam berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris masih jauh dari kompetensi yang diharapkan. Hal ini menimbulkan rasa tidak nyaman bila para siswa tadi benar-benar terjun ke dalam masyarakat yang menggunakan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Dari paparan tersebut dapat dikatakan bahwa kompetensi berbicara sebagai salah satu productive skills siswa belum berterima, karena belum dapat memproduksi bahasa yang sesuai karena kesalahan yang disebabkan oleh kurang dikuasainya salah satu piranti berwacana, yaitu kompetensi sosio kultural tersebut. Selain daripada itu, hasil tulisan siswa yang didapat dari penugasan yang diberikan juga diperoleh data bahwa tulisan para siswa tersebut belum berterima karena masih adanya kesalahan-kesalahan yang berkenaan dengan salah satu piranti pembentuk wacana, yaitu sosio kultural tadi. Sebagai ilustrasi, siswa cenderung menulis dengan membubuhkan title seperti Mr., Mrs., untuk nama depan seseorang. Kesalahan ini dilakukan oleh hampir seluruh siswa, sehingga piranti pembentuk wacana yang harus dibenahi adalah piranti sosio kultiral supaya productive skill yang lain, yaitu menulis juga akan berterima.

Sebagai siswa yang berada di lingkungan menengah ke atas, siswa-siswa tersebut akan memiliki jangkauan kehidupan yang lebih jauh. Banyak di antara siswa tersebut akan melanjutkan belajar ke luar negeri atau harus mengikuti orang tuanya bergaul dengan orang-orang asing yang menggunakan bahasa Inggris, sehingga kompetensi sosio kultural bagi siswa saya penting untuk dimiliki. Karena para siswa tersebut dalam waktu kurang lebih satu setengah tahun harus terjun ke masyarakat, maka kompetensi sosio kultural mendesak untuk ditingkatkan agar mereka nanti memiliki kompetensi bahasa Inggris yang lengkap untuk dapat terjun di dalam masyarakat yang menggunakan bahasa Inggris.

Karena siswa tidak hidup dalam masyarakat yang memiliki kultur bahasa Inggris, maka lingkungan kehidupan siswa yang mereka geluti sehari-hari sebagai remaja kota besar dapat digunakan untuk sarana meningkatkan kompetensi sosio kultural tersebut. Para siswa di kelas itu terbiasa menyaksikan film-film dari video di rumah. Konteks sosial mereka akan saya manfaatkan untuk meningkatkan kompetensi mereka. Film adalah sarana yang paling mudah untuk diakses oleh para siswa tersebut, serta sekaligus mewakili kehidupan masyarakat dari mana film itu berasal. Dalam mempelajari bahasa asing. Khususnya untuk mempelajari budaya, materi yang didapat dari film dapat digunakan. Tidaklah sukar mendapatkan film-film Amerika yang dapat dimiliki maupun disewa oleh para siswa saya tersebut. Tentu saja film-film tersebut dapat mewakili kehidupan serta kultur masyarakat di Amerika sebagai bangsa yang menggunakan bahasa Inggris. Dengan kondisi siswa tersebut, maka saya bermaksud meningkatkan kompetensi sosio kultural bahasa Inggris melalui pemberian proyek menganalisa film berbahasa Inggris dari segi kulturnya.

Terkait dengan hal tersebut diatas maka selanjutnya menarik untuk ditelaah dalam sebuah penelitian. sehingga judul penelitian yang ditetapkan adalah : “Peningkatan Kompetensi Sosio Kultural Bahasa Inggris Melalui Pemberian Proyek Menganalisa Film Pada Siswa Kelas 2-O-1 SMK Tunas Pembangunan 2 Surakarta Semester 2 Tahun Ajaran 2010/2011”.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bagus... Hebat Bunda

08 Apr
Balas

Berbagi dari pada ngumpet di file.. mungkin bisa menginspirasi untuk mereka yang mau buat PTK

08 Apr

Jazakillah khoir...Bunda, sangat bermanfaat. Baarakallah.

08 Apr
Balas

Alhamdulilah...sangat bermanfaat utk sy yg baru mulai belajar menulis...barakallah bunda salam sehat dan bahagia sll ...

17 Apr
Balas

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali