Sri Sugiastuti

Mendidik dengan hati, berdakwah lewat tulisan, membaca dengan kaca mata 5 dimensi,selalu ingin berbagi dan menjaga silahturahmi. Tulisan adalah warisan yang ber...

Selengkapnya
DEBURAN OMBAK WAKTU ( 26 )

DEBURAN OMBAK WAKTU ( 26 )

BUAH HATIKU

Hari menjelang subuh, perlahan matahari menyembul dari ufuk timur, ayam jago bersahutan, embun pagi mulai turun, dingin udara di bulan Juli sangat terasa. Musim kemarau selalu menyebabkan udara sangat dingin di pagi hari. Karena terasa ingin buang air kecil Diah terbangun padahal semalam tidurnya sama sekali tidak nyenyak.

Miring ke kanan salah, miring ke kiri salah apa lagi telentang karena kandungannya cukup besar. Betapa tersiksanya dia dengan perutnya. Diah yang sejak semalam tidak bisa tidur dengan nyenyak, menahan rasa mulas yang frekuensinya semakin kerap, sementara orang menyebabkan kehamilan ini telah lenyap tiada kabar beritanya bak ditelan bumi.

Perlahan dia menuju pintu kamar yang menghubungkan dengan kamar mandi. Diah hampir terjatuh setelah merapihan celana dalamnya. Hatinya tersentak ketika dia mengetahui ada slem yang keluar dari vaginanya. Segera Diah berteriak memanggil Eyangnya.

“ Eyang mungkin aku akan melahirkan. Perutku mules sekali Eyang.” Diah berteriak dari kamar mandi. Terlihat Kepanikan di wajah Diah. Belum bisa dibayangkan bagaimana rasanya melahirkan tanpa dibantu orang yang ahli, di rumah hanya ada Diah dan Eyangnya.

“ Sabar ya Nduk. Eyang akan panggilkan bidan anaknya teman Eyang yang di Mojosongo ya. Kalau terasa sakit kau ambil nafas yang panjang ya. Jangan panik! Eyang sudah 7 kali melahirkan dan semua baik-baik saja.” Begitulah Eyang menenangkan Diah.

Hampir satu jam bidan itu baru datang. Eyang diminta menyiapkan air panas. Kebetulan penghuni rumah yang lain sedang ke Surabaya ada family Pak Atmaja yang menikahkan anaknya. Suasana ini memberi mengurangi ketegangan yang dirasakan Diah. Biar Eyang dan Bidan Eny saja yang membantu kelahiran bayinya.

“Mba Diah, berbaring ya, ini kainnya dipakai, coba saya lihat sudah pembukaan berapa.” Bidan cekatan itu memakai sarung tangan dan memeriksa jalan lahir bayi itu.

“Sabar mba, ini sudah hampir lengkap pembukaannya. Jangan mengejan dulu ya kalau belum saya perintah. Kalau nekad nanti terlalu banyak jahitan,bidan itu memberi peringatan.

“Ya Allah sakitnya luar biasa. Eyang bantu aku Eyang.” Diah merintih sambil memanggil Eyangnya tiba-tiba dia menyebut nama Allah. Diah berjihad memohon bayinya cepat lahir dan selamat.

Eyang Retno mendekat. Keringat di dahi Diah sebesar biji jagung, yang membasahi wajahnya. Eyang mengusap keringat itu dengan saputangan handuk, dan mengelus kepala cucu kesayangannya. Sebentar lagi dia akan jadi Eyang buyut. Di usianya yang ke 70 tahun. Rasanya baru kemaren dia membesarkan ke 7 anaknya, Eyang berusaha menepis rasa was-wasnya.

Eyang ingat setiap dia melahirkan suaminya selalu menunggunya dan memberi dorongan moral, sehingga dia merasa tenang dan percaya diri, walau untuk anak pertama dan ke dua proses melahirkan dibantu oleh seorang dukun bayi. Dia harus bisa menyemangati Diah agar tetap kuat dan menuruti perintah yang diberikan Bu Bidan.

“Alhamdulillah aku masih diberi kesempatan melihat buyutku lahir ke dunia.Semoga dia lahir selamat dan tidak cacat sedikit pun…duh Gusti Pangeran,” doa dan rasa syukur Eyang terucap.

Bidan Eny kembali melihat kondisi jalan rahim Diah. Ternyata rambut si bayi sudah terlihat, jadi tangan Bidan itu dengan lincah membantu proses kelahiran bayi itu. Karena posisi bayi kalung usus jadi Diah merasakan ketika tangan Bidan masuk ke jalan rahim dan berusaha agar sang bayi tidak terlilit tali pusat.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali