Sri Sugiastuti

Mendidik dengan hati, berdakwah lewat tulisan, membaca dengan kaca mata 5 dimensi,selalu ingin berbagi dan menjaga silahturahmi. Tulisan adalah warisan yang ber...

Selengkapnya
DEBURAN OMBAK WAKTU ( 27 )

DEBURAN OMBAK WAKTU ( 27 )

Tangisan bayi yang melengking panjang menyadarkan Diah bahwa saat ini dia sudah menjadi seorang ibu. Diah melahirkan bayi mugil dengan bobot 2,5 kg dengan panjang 47 cm. Eyang yang sudah menyiapkan segala perlengkapnya tersenyum gembira menyambut kehadiran buyutnya. Eyang memeluk tubuh Diah yang lemah dan tak kuasa menahan tangis.

Diah terharu merasakan dekapan Eyangnya yang begitu tulus menyayanginya dan memberi semangat yang luar biasa selama janin itu dalam kandungan hingga proses melahirkan yang sangat menegangkan. Eyang lah yang berusaha meyakinkan kedua orangtua dan saudaranya bahwa Diah tidak ingin melakuan aborsi. Setelah bayi itu dibersihkan Diah mendekap bayi mungil itu dan memandanginya seakan tak percaya. Diah sudah menjadi seorang Ibu sekarang.

Diah memberi penghormatan pada Eyang untuk memberi nama bayi mungil itu “ Ayo katakan Eyang nama yang sudah Eyang siapkan untuk buyut Eyang!“ Diah yakin Eyang sudah siap. “Cahyani Kurniasih”. Itu nama yag Eyang berikan untuk buyutnya Eyang lebih suka memanggilnya Asih sedang Diah akan memanggilnya dengan panggilan Aya.

Menuruti saran orangtua nya, setelah tali pusat Aya tanggal, Diah dan bayinya Aya diminta pindah ke Surabaya. Mereka harus bisa menyembunyikan aib ini selama masih bisa ditutupi. Sebenarnya keberadaan Diah dan bayinya di rumah itu akan banyak membuat masalah dan berbagai gunjingan. Tentu saja Eyang tidak tega dan Eyang ingin ikut Diah membesarkan buyutnya.

Rencana kepindahan Diah dan bayinya, membuat Eyang sakit. Dia tidak sanggup berpisah dengan Diah dan sangat mengkhawatirkan kehidupan Diah dan bayinya di masa mendatang. Selama kehamilan Diah, Eyang kurang memperhatikan kesehatannya, semua perhatian dan pikirannya tercurah pada Diah. Apalagi Eyang juga kerap menemani Diah dan selalu menghiburnya, sehingga dia tidak peduli dengan kondisi dirinya sendiri.

“ Biar aku antar ke rumah sakit ya Bu! Sekalian Medical check up, sudah lama loh tidak check up. Suhu badan Ibu panas, dan tekanan darahnya tinggi.” Bu Sasmita membujuknya agar bersedia diajak ke rumah sakit. Tapi Eyang bersikeras menolaknya.

“ Aku tidak sakit, hanya sedikit kelelahan, besok juga sembuh.” Kata Eyang sambil menghela nafas panjang.

“Susi tolong sayangi Diah seperti kau menyayangi anak anakmu yang lain! Aku tidak bisa selamanya menjaga Diah. Selama ini walau kau hidup satu rumah dengan Diah, tapi kau menelantarkannya. Kau seorang ibu yang tidak amanah. Diah tumbuh jadi gadis pendendam, dan salah bergaul itu juga karena andilmu. Masih untung ada aku yang mau mengambil alih apa yang jadi tanggung jawabmu. Ingat Susi, besok kau akan tua seperti aku. Belum tentu semua anakmu yang kau sayang saat ini bisa merawatmu dan membahagiakanmu di hari tua. Sudah lama aku ingin bicara tentang Diah denganmu.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali