Sri Sugiastuti

Mendidik dengan hati, berdakwah lewat tulisan, membaca dengan kaca mata 5 dimensi,selalu ingin berbagi dan menjaga silahturahmi. Tulisan adalah warisan yang ber...

Selengkapnya
DEBURAN OMBAK WAKTU ( 28 )

DEBURAN OMBAK WAKTU ( 28 )

Di mata Diah kau seorang ibu yang pilih kasih, tidak adil dan dia sangat membencimu. Suatu saat kau akan menerima balasan dengan apa yang sudah kau perbuat. Sebelum terlambat, temui Diah, akui juga cucumu itu, walau itu hasil hubungan di luar nikah, di tubuh itu mengalir darahmu” Bu Sasmita menelan semua ucapan Eyang sambil matanya menerawang jauh mengingat kesalahan apa saja yang sudah diperbuat terhadap Diah ucapan Ibunya, sebagian besar benar dan dia mengakui kesalahannya.

“Maafkan aku Ibu. Selama ini aku telah membuat kesalahan yang besar. Aku janji akan segera menemui Diah kalau kesehatan Ibu sudah membaik. Ibu harus istirahat dan makan yang banyak. Tidak usah keluar malam. Udara di malam hari sudah tidak bersahabat lagi denganmu.” Bu Sasmita berusaha membujuk Eyang Retno.

“ Semoga ini bukan pesan terakhir yang ingin Ibu sampaikan padaku. Selama ini aku kurang berbakti padanya. Aku juga membebaninya dengan memintanya mengurus Diah. Selama ini aku sangat egois dan membenci Diah tanpa alasan yang jelas.” Suara hati Bu Sasmita bergejolak.

Firasat itu tidak meleset. Sayang Eyang Retno dijemput malaikat tanpa didampingi anak cucunya. Mereka tidak menyangka Eyang pergi begitu cepat tanpa merepotkan keluarganya. Pemakaman segera dilaksanakan mengingat semua anak Eyang bisa segera dihubungi dan siap mengantar Eyang ke peristirahannya yang terakhir.

Hampir semua anak dan cucu Eyang tersentak kaget ketika mengetahui betapa banyaknya simpanan uang yang ditinggalkan Eyang, belum lagi perhiasan yang pernah dibelikan Eyang Kakung padanya. Setelah rapat keluarga semua peninggalan Eyang dibagi rata pada anak anaknya.

Diah sudah pindah ke Surabaya ketika mendapat berita bahwa Eyang Retno wafat dengan tenang di kamarnya tanpa ditunggu oleh anak dan cucunya. Keadaan Diah tidak memungkinkan Diah menghadiri pemakaman Eyang. Hanya Doa yang bisa dipanjatkan kepada Eyang.

“ Selamat jalan Eyang. Terima kasih untuk semua yang kau berikan padaku. Maafkan aku Eyang. Betapa aku selalu merepotkanmu. Berapa banyak uangmu yang aku curi. Semua itu aku lakukan karena terpaksa, Eyang lebih tahu kondisiku sejak kecil. Belum sempat aku membalas semua kebaikanmu. Belum sempat aku meminta maaf padamu, kau sudah berpulang. Siapa yang akan menanggung biaya hidupku Eyang. Padahal sebelumnya kita punya rencana untuk hijrah ke Surabaya dan memulai hidup baru. Kau menjauhi teman penjudi, kau akan merawat Aya bersamaku.. Menikmati uang tabungan, deposito dan juga uang pensiun yang kau miliki bersamaku. Kau juga belum sempat membuat wasiat secara tertulis tentang hartamu yang akan kau hibahkan padaku.” Diah berusaha mengingat kembali semua rencananya bersama Eyang Retno.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Iya pingin ngikuti terus

13 Feb
Balas

Monggo Pak, rencana sy posting tiap hari

13 Feb

novel yang sangat menarik dan membuat penasaran

13 Feb
Balas

Rencana mau cetak ulang dengan sedikit revisi dan ganti judul

13 Feb

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali