Sri Sugiastuti

Mendidik dengan hati, berdakwah lewat tulisan, membaca dengan kaca mata 5 dimensi,selalu ingin berbagi dan menjaga silahturahmi. Tulisan adalah warisan yang ber...

Selengkapnya
DEBURAN OMBAK WAKTU ( 46 ) TANGAN ALLAH MENGGAPAIKU

DEBURAN OMBAK WAKTU ( 46 ) TANGAN ALLAH MENGGAPAIKU

46. Tangan Allah Menggapaiku

Eyang Hadi menemani Diah di dapur menyiapkan sarapan. Awalnya Diah canggung berbicara dengan Eyang Hadi. Diah berusaha mengerti perasaan Eyang Hadi ketika menemaninya.

“ Dia pasti teringat pada Dewanti, anak tunggalnya yang sudah meninggal. Aku harus bisa menempatkan diri dan jangan sampai membuat hatinya luka. Aku harus menghargainya sebagai ibuku sendiri. Aku berharap dia bisa menggantikan posisi Eyang Retno yang selalu ada di hatiku.” Harapan Diah tidak berlebihan karena Diah ingin hidup tenang dan menemukan kebahagiaan di rumah ini.

“ Eyang, Mas Oto kalau sarapan biasanya menunya apa?”tanya Diah pada Bu. Hadi.

“ Nak Oto itu sukanya pecel ndeso dengan sambel wijen. Biasanya dia beli sendiri di Manahan, dan dibawa pulang untuk dinikmati bersama di rumah.”

“ Jadi sebaiknya saya menyiapkan sarapan untuk anak anak saja ya? Diah bertanya lagi takut salah dan menyinggung perasaannya. Maklum sejak Dewanti sakit. Urusan makan dan dapur diambil alih Bu. Hadi. Diah tak ingin Bu. Hadi hatinya terluka dengan keberadaannya di rumah ini.

“ Mas Rangga biasa sarapan roti, kalau Candra agak susah, kadang bubur lemu, atau sate ayam madura yang biasa lewat di depan rumah.” Bu. Hadi memberitahu Diah menu sarapan yang biasa dia siapkan.

“ Wah koq ribet juga ya, andai hanya ada satu menu dan bisa dinikmati bersama tentu lebih praktis.” Suara hatinya berbisik.

Dengan cekatan dibuatnya 5 gelas teh manis dan dihidangkan di meja makan yang sudah tersedia roti tawar dan aneka olesan, ada keju, meses, selai strawberi, atau nanas. Bu. Hadi sudah membeli bubur lemu, dan sate ayam lengkap dengan lontong. Diam diam Diah mengagumi kecakapan Bu. Hadi. Dia bisa menggantikan posisi anaknya dalam memenuhi urusan rumah tangga.

“ Nak Diah, papanya anak anak belum bangun toh?” tanya Bu. Hadi sedikit mengangetkannya.

“ Sebentar Yang biar ku tengok ke kamar apakah dia sudah bangun.” Diah bergegas menuju kamar.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali