Sri Sugiastuti

Mendidik dengan hati, berdakwah lewat tulisan, membaca dengan kaca mata 5 dimensi,selalu ingin berbagi dan menjaga silahturahmi. Tulisan adalah warisan yang ber...

Selengkapnya
DEBURAN OMBAK WAKTU ( 47 ) TANGAN ALLAH MENGGAPAIKU

DEBURAN OMBAK WAKTU ( 47 ) TANGAN ALLAH MENGGAPAIKU

Ternyata Marwoto tidak ada di kamar, lalu dia masuk ke kamar Rangga. Kamar itu pun tak berpenghuni, tapi samar samar terdengar suara gaduh yang berasal dari kamar Aya. Ketika dihampiri ternyata sumber suara memang dari sana. Mereka sedang asyik menggoda Aya. Tawa lepas mereka makin riuh melihat gaya Aya ketika disuruh menirukan salah satu lagu anak anak. Melihat adegan itu hati Diah berbunga bunga. Belum pernah Diah merasakan keakraban dalam sebuah keluarga.

“ Eh ternyata semua kumpul di sini ya. Ayo..ayo. Siapa yang mau mandi lebih dulu, atau mau mencicipi teh anget dan roti yang ada di meja makan.!” Ajakan Diah menghentikan canda mereka.

Di telinga Marwoto suara Diah begitu lembut. Sudah lama tidak didengar suara itu di rumahnya. Suasana kehangatan suatu keluarga yang bahagia. Marwoto berharap rumah tangganya bisa sakinah mawadah dan warohmah.

Sementara tanpa dikomando anak anak membubarkan diri, tinggallah Diah dan Marwoto di kamar itu. Dengan bahasa isyarat Diah mengerti maksud Marwoto segera mereka pindah kamar dan menguncinya dari dalam. Suara TV dinyalakan terdengar dari channel TV swasta tayangan film kartun Power Ranger. Keadaan itu bisa dijadikan tanda bahwa situasi aman. Kecuali bila Aya membutuhkan sesuatu dan Bu. Hadi tidak bisa melayani.

Diah hampir lupa bagaimana rasanya bercinta. Diah pernah melakukan karena cinta sesaat dan dipengaruhi obat yang diberikan Sanjaya. Dan akhirnya benih itu tumbuh menjadi bocah cilik yang lucu. Kini sebagai seorang istri, dia harus banyak belajar bagaimana membahagiakan suami. Bagi Diah sarana yang tepat untuk belajar adalah buku.

“ Mas Oto, aku merasa masih banyak kekurangan dan ingin menjadi seorang istri dan ibu yang baik, mungkin ada baiknya aku ke toko buku. Aku lebih suka belajar sendiri dengan membaca.”

Ketika Diah keluar kamar, anak anak masih asyik nonton film kartun. Marwoto yang mengikutinya dari belakang, memandangi mereka dengan perasaan bangga.

“ Papa sama mama mau pergi ke toko buku, siapa yang mau ikut?” Marwoto menawarkan rencananya. Tak satu pun dari anak anak yang bergeming mendengar ajakannya.

“ Wah masih pada asyik ya! Ayo sarapan dulu nanti nonton film kartunya dilanjut.” sekali lagi Marwoto mengajak bicara anak anaknya. Ketika TV sedang menayangkan iklan. Mereka baru merespon ajakan papanya.

“ Mau, ke toko buku “Sekawan” ya Pa..?” tanya Rangga si kutu buku.

“ Ya, ayo selesaikan makanmu! Selagi masih pagi tokonya belum begitu ramai,”ajak Marwoto

*********

Suasana toko buku yang masih sepi, kenyamanan toko buku itu dan pelayannya yang ramah, menjadikan acara belanja buku Diah dan keluarganya mengasyikkan. Rangga yang mengoleksi komik wayang dan seri Tutur Tilular, langsung menyerbu ke lorong buku yang menyediakan buku buku yang menjadi kegemarannya.

Diah berjalan sambil mengandeng Aya di tangannya sudah ada beberapa buku yang dibutuhkan ada buku masak memasak, parenting, dan buku motivasi dan inspirasi. Sedang Marwoto mojok dengan Candra di ujung lorong sambil memperlihatkan beberapa buku cerita anak yang bisa dipilih Candra. Setelah mereka puas berbelanja buku, Marwoto mengajak mereka makan siang di rumah makan “Timlo Solo” yang menyediakan berbagai makanan yang khas Solo.

Sambil menunggu pesanan mereka datang. Tanpa sadar pikiran Diah melayang jauh mengingat masa kecilnya yang diabaikan oleh kedua orangtuanya. Tidak pernah sekali pun mereka mengajak Diah menikmati kebersamaan seperti layaknya orangtua yang mengasihi dan memanjakan anaknya.

“ Alhamdulillah, Aku bersama Aya, kedua anak tiriku dan suamiku bisa menikmati kebersamaan ini. Semoga ini awal yang baik dalam langkahku menuju kebahagia yang sudah begitu lama aku dambakan.” Senyum Diah mewakili isi hatinya.

Marwoto yang dari tadi memandangi wajah istrinya jadi sulit menebak apa sebenarnya yang ada di benak Diah.

“ Hayo.. Mama pikirannya sedang mengembara kemana?” tanya Marwoto penuh selidik.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Alhamdulillah...,semoga sakinah ,mawaddah warohmah untuk Diah dan Marwoto. Baarokallah Bunda.

08 Mar
Balas

Aamiin YRA Badai masih akan datang untuk mengujinya..

08 Mar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali