Sri Sugiastuti

Mendidik dengan hati, berdakwah lewat tulisan, membaca dengan kaca mata 5 dimensi,selalu ingin berbagi dan menjaga silahturahmi. Tulisan adalah warisan yang ber...

Selengkapnya
DEBURAN OMBAK WAKTU ( 48 ) MIMPIKU

DEBURAN OMBAK WAKTU ( 48 ) MIMPIKU

48.. Mimpiku

Diah masih sibuk di dapur. Aroma masakan yang dimasak Diah begitu menyelera. Siang ini Marwoto minta disiapkan urapan, penyek teri, tahu bacem, sedang untuk anak anak Diah memasak soup dan ayam goreng tepung. Diah sedang mencoba meraih mimpinya sehingga hidup sebagai ibu rumah tangga sangat dinikmati. Diah sempat senewen tadi pagi dengan menu yang harus dihidangkan dan akhirnya satu persatu menu yang dimasak selesai juga.

Langkahnya bolak-balik ke meja makan, menata masakan yang siap dihidangkan. Tangannya menyusun tahu, dan ayam goreng tepung, juga penyek teri yang harus dimasukkan ke dalam stoples, sesekali matanya melihat jam dinding, dia khawatir ketika Marwoto pulang untuk makan siang hidangan belum siap. Akhirnya Diah menghela nafas lega memandangi semua hasil masakannya yang sudah terhidang apik di meja makan.

“Aku harus mandi lagi. Aku tidak mau kalau Mas. Oto mencium bau tidak sedap dari tubuhku. Kegiatanku di dapur tadi membuat rambutku basah oleh keringat bercampur aroma masakan,” hatinya berseru.

Diah baru selesai berdandan dan memoles bibirnya yang sensual dengan lipstik warna cerah. Ditatap kaca yang ada di hadapannya, seakan ingin diajaknya bicara. Menenangkan hatinya, dan berusaha untuk membuang semua kenangan masa lalu yang begitu getir dirasakan.

“Aku harus bisa menjadi diriku sendiri. Belajar jadi seorang ibu tiri yang baik. Mencintai Mas Oto dan keluarganya. Ada Bu Hadi sebagai pengganti ibuku. Ada Mas Oto yang dapat membuang semua rasa galau di hatiku. Aku yakin Mas. Oto bisa mewujudkan mimpiku,” asa Diah begitu mantap menghadapi samudra kehidupannya yang baru.

Tiba tiba Aya muncul di hadapannya. Membuyarkan lamunannya. Dengan suara riang dia memberitahu Mamanya kalau Marwoto sudah pulang. Segera Diah memeluk anak itu dan menciumnya.

“ Ayo kita hampiri Papamu yang baru pulang, mungkin ada sesuatu yang dibawa untukmu!” Suara renyah Diah menyambut suaminya yang pulang untuk makan siang.

Marwoto mencium kening Diah dan meraba perutnya. Saat itu Diah tersanjung. Dia tidak pernah mengalaminya ketika sedang hamil Aya. Perhatian suami terhadap seorang istri yang sedang hamil muda, yang kadang sensitif dan sering mengada ada, dengan alasan ngidam, dan merajuk kepada suaminya, minta dibelikan sesuatu yang kadang tanpa nalar yang jelas.

“Ma, tadi di kantor aku gelisah, rasanya ingin segera bertemu denganmu. Wajahmu membuatku rindu, kau adalah yang terindah yang kumiliki saat ini.” Tiba tiba Marwoto jadi puitis yang membuat hati Diah semakin membuncah.

“Koq jadi ngegombal, gitu sih Mas? tanya Diah manja dengan pandangan penuh sayang pada suaminya.

Mereka menuju meja makan. Sementara Diah mendorong kursi dan menolong Aya duduk di kursi yang disiapkan. Dilayaninya Marwoto dengan sepenuh hati. Bisa makan bersama dengan suami tercinta dirasakan Diah seperti mendapat anugerah yang tak terhingga. Rasa lelah dan luka kecil karena teriris pisau ketika menyiapkan masakan lunas sudah. Terhapus dengan pujian dan sanjungan dari suaminya.

Ketika Marwoto menyelesaikan suapan terakhir dari nasi yang ada di piringnya, terdengar dari luar suara Bu Hadi yang baru pulang menjemput Chandra. Diah pun segera menyambut Chandra.

“ Ehh, anak Mama sudah pulang, gimana tadi di sekolah Nak? Ada PR tidak? Yuk ganti baju dan cuci kaki!, setelah itu mau makan apa main dulu?” tanya Diah tulus dari hatinya kepada Chandra.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Alhamdulillah.., turut bahagia rasanya Bunda. Baarokallah.

09 Mar
Balas

Itu lsh hidup ada bahagia ada duka.

09 Mar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali