Sri Sugiastuti

Mendidik dengan hati, berdakwah lewat tulisan, membaca dengan kaca mata 5 dimensi,selalu ingin berbagi dan menjaga silahturahmi. Tulisan adalah warisan yang ber...

Selengkapnya
DEBURAN OMBAK WAKTU ( 49 )

DEBURAN OMBAK WAKTU ( 49 )

Diah benar benar jatuh hati bukan hanya pada Marwoto tapi juga dengan anaknnya. Diah membayangkan, anak seusia Chandra sangat membutuhkan kasih sayang seorang ibu.

“Aku harus bisa menggantikan posisi ibunya yang telah tiada.Ya Allah beri aku kesempatan untuk bisa ikut membesarkan anak-anak Mas.Oto. Aku berharap bayi yang ada di rahimku saat ini adalah bayi perempuan yang bisa menjadi adik Aya.” batinnya berharap.

Chandra tidak menjawab pertanyaan Diah. Chandra malah membuang muka dan lari dalam pelukan ayahnya. Chandra menunjukkan sikap penolakan dan cemburu dengan adanya kehadiran Diah dalam keluarganya. Marwoto yang melihat sikap anaknya tidak hormat pada Diah tidak mengambil sikap. Membiarkan anak itu berbicara padanya tanpa diingatkan bahwa sikapanya tadi salah.

Diah yang merasa dicuekin, berusaha sabar. Mungkin Chandra belum terbiasa menerima orang lain sebagai pengganti ibunya.Bu Hadi yang bisa melayani Chandra. Marwoto sendiri kadang tidak sabar dengan sifat Chandra yang kadang menjengkelkan. Tapi Marwoto bisa memaklumi karena Chandra sangat terpukul dengan kepergian ibunya untuk selamanya. Chandra masih menutup diri dan menolak kehadiran Diah. Itulah sebabnya Chandra lebih dekat dengan Eyangnya.

Marwoto tahu kalau Diah tersinggung dengan perlakuan Candra. Disinilah Marwoto dituntut bisa berperan adil dan menjaga perasaan kedua orang yang dicintainya.

“ Sabar ya Ma, suatu saat Chandra pasti bisa menerimamu, dia masih terlalu kecil untuk memahami dirimu, sebagai pengganti ibunya,” ucap Marwoto sedikit menyejukkan hatinya.

“ Ternyata bersikap lembut dan berusaha untuk membuat senang semua isi keluarga ini membutuhkan pengorbanan. Tidak semua yang aku lakukan dengan baik bisa diterima dengan baik pula.” Diah bisa menyimpulkan sendiri apa yang baru saja dialami.

Ada perasaan sakit karena keberadaannya ditolak, dan menjadikan dia ragu. Kapan Chandra bisa menerimanya dan diakui sebagai ibunya.

“Mungkin aku memang dituntut untuk bisa menjadi Super Mom, ini jalan yang kupilih. Aku harus total bisa menjadikan keluarga yang adem ayem, tanpa ada konfik yang berkepanjangan. Sehingga aku tidak ada ganjalan kepada kedua anak tiriku, dan juga ibu mertua Mas. Oto.Harus ada jalan keluarnya.” tekad Diah begitu kuat.

Tempat Diah berbagi untuk masalah kecil yang mulai dihadapi adalah buku hariannya. Diah bisa menulis apa saja yang menjadi suka dukanya. Kebiasaan ketika Diah remaja, dilakukan lagi. Untuk mengatasi kegalauan dan memperbaiki diri Diah lari ke toko buku. Banyak buku parenting, kewanitaan dan pernak pernik seputar rumah tangga menjadi referensi hatinya untuk bersikap dan menjaga perasaannya dan juga perasaan orang lain.

Diah ingin menghilangkan mitos ibu tiri yang kejam dengan kebalikannya. Diah ingin membuktikan pada dunia bahwa dia bukan ibu tiri yang kejam.

“ Aku tidak ingin dicap sebagai ibu tiri yang lebih kejam dari ibu kota. Mungkin dengan mengalah dan banyak berkorban, aku bisa diterima oleh Rangga dan Candra. Padahal aku manusia biasa yang kadang juga sakit hati. Rangga dan Candra tanpa perasaan bercerita tentang kenangan indah mereka ketika ibunya masih ada.Begitu juga kadang tanpa disadari Mas. Oto membandingkan diriku dengan Dewanti mantan istrinya. Apalagi untuk urusan ML.(Making Love), entah sengaja entah tidak sering terucap dari bibir Mas.Oto perbandingan itu. Hatiku jelas tidak bisa menerima, tapi itu lah yang aku alami.” Keluh kesahnya dituangkan dalam buku hariannya.

Masuk dalam kehidupan Marwoto sekeluarga bagi Diah bukan hal yang mudah. Marwoto mengetahui dengan jelas latar belakang Diah dan Aya. Mungkin orang yang tahu siapa Diah siapa Marwoto, kebersamaan mereka jadi bahan gossip yang menarik. Mereka bisa mengganggap bahwa Diah termasuk wanita yang beruntung. Karena status Marwoto sebagai duda kaya banyak diincar gadis dan wanita jomblo lain. Anehnya Diah tidak merasa bangga atau sombong karena sekarang statusnya sebagai istri dari pengusaha kaya.

Keadaan Diah yang hamil tua jadi jarang mendampingi acara yang biasa diikuti Marwoto, baik berupa resepsi pernikahan, menjamu relasi atau acara penggalangan dana yang bersifat sosial. Diah cukup puas dengan cerita yang dibawa Marwoto tentang kegiatan, atau acara yang dihadiri suaminya. Walau Diah di rumah berteman buku, TV dan Majalah Wanita, dia tidak merasa terisolasi. Persiapan menghadapi kelahiran merupakan moment yang sangat dinantikan. Diah bisa merasakan kesiapan dan harapannya.

“Aku dan Mas. Oto sangat yakin kalau bayi yang kukandung ini pasti perempuan. Hasil USG juga menyatakan bayiku perempuan. Aku sudah menyiapkan nama yang pas untuk bayi kami. Sebaiknya aku janagn terlalu gembira dan hanya fokus pada calon bayiku. Masih banyak orang yang memerlukan perhatianku. Aku masih harus terus mengadakan pendekatan dengan Rangga. Anak sulung Mas. Oto ini sangat cerdas. Aku harus bisa mengambil hatinya dan tahu persis apa kelemahannya sehingga aku tidak terjebak dalam tampilan dan emosi sesaat. Rangga dan Candra punya karakter yang berbeda.” Diah mengingatkan dirinya sendiri.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Siap membaca kelanjutannya..mantap.

11 Mar
Balas

Siap juga mempostingnya

12 Mar

Semoga Diah bisa bersabar. Baarokallah...Bunda.

11 Mar
Balas

Aamiin YRA..

11 Mar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali