Sri Sugiastuti

Mendidik dengan hati, berdakwah lewat tulisan, membaca dengan kaca mata 5 dimensi,selalu ingin berbagi dan menjaga silahturahmi. Tulisan adalah warisan yang ber...

Selengkapnya
DEBURAN OMBAK WAKTU ( 50 )

DEBURAN OMBAK WAKTU ( 50 )

Rangga sudah cukup besar untuk dilayani ketika dia duduk di meja makan. Sudah tersedia menu yang menurut Diah merupakan menu kesukaan anak anak. Diah berharap Rangga akan memuji masakannya dan menghargai upayanya menyiapkan makanan di meja makan. Paling tidak dia tidak komplain dan menghabiskan nasi dan lauk yang dia ambil saja Diah merasa senang. Ditunggunya reaksi Rangga yang masih menikmati makan siangnya.

Ternyata Rangga tidak menyukai masakan Diah. Rangga Justru meminta Eyang Hadi membuatkan telur dadar dan sambal kecap. Sambil berteriak kencang dia menuju ke kamar Eyangnya.

“ Eyang aku mau lauk telur dadar dan sambal kecap, tolong buatkan ya!” kata Rangga sambil mencari Eyangnya.

Diah yang sudah menyediakan makanan dengan menghabiskan waktu separuh hari amat kecewa. Rangga ternyata menolak masakannya. Cara penolakannya sungguh menyakitkan. Dia tidak menghargai sama sekali usaha Diah.

“ Ternyata usahaku tak berbuah manis. Semoga besok aku bisa memberikan yang terbaik untuk Rangga. Aku harus bisa menaklukkan hati anak itu. Aku ingin menyayangi dia sepenuh hati. Menggantikan posisi ibunya yang sudah tiada. Aku ingin jadi ibu dan istri yang sempurna. Tak akan kubiarkan kerikil dan duri tajam menghalangi jalanku untuk menggapai kebahagiaanku,” bisik hati Diah.

Marwoto menikmati makan siangnya dengan lahap. Masakan Diah tak jauh beda dengan masakan almarhumah istrinya. Dipandangi wajah Diah yang sedang sibuk menyuapi Aya. Ada keletihan dan kedamaian di wajah Diah. Marwoto ingin segera melihat bayi yang dikandung Diah, menggendongnya dan memeluknya. Bayangan bayi mungil dipelukan Diah tiba tiba mengganggu pikirannya.

“ Sebentar lagi ada warga baru di rumah ini. Aku akan menjadi ayah dari 4 orang anak. Mereka jadi assetku yang paling berharga. Terima Kasih ya Allah, setelah kau uji aku dengan kehilangan istri yang Kau renggut dengan penyakit mematikan itu, lalu Kau beri aku kemudahan dalam mencari rezeki dan Kau kirim untukku bidadari cantik dalam hidupku, masih Kau tambah lagi dengan bonus 2 bidadari kecil dalam keluargaku,” terucap rasa syukur Marwoto.

Diah kembali sibuk dengan merapikan meja makan dan mengupaskan mangga untuk Marwoto. Sesekali diawasi Aya yang sudah selesai makan dan kembali ke ruang keluarga bergabung dengan Rangga dan Chandra.

Tanpa sepengetahuan mereka, Diah memantau kedekatan Aya dengan kedua anak tirinya. Diah paham kalau Rangga dan Candra belum bisa menerima kehadirannya dan Aya. Sikap Chandra yang kadang kasar terhadap Aya, membuat Diah harus bisa memberi pengertian kepada mereka, bahwa mereka bersaudara dan tidak boleh bersikap kasar.

“Chandra tolong Aya jangan didorong-dorong seperti itu ya! Kepalanya bisa terbentur dinding, kasihan dia.” Dengan cara lembut Diah menegur Candra

“Aya nya ngga bisa diam Ma, menggangguku dari tadi,” sungut Candra.

“Tapi Aya kan masih kecil jadi Mas Chandra juga harus mengalah ya!” Diah berusaha memberi pengertian

“ Mengurus anak bukan pekerjaan yang mudah apalagi anak tiri. Ini suatu tantangan bagiku. Aku harus mampu menelan sikap dan perlakuan anak tiriku juga kadang dari Eyang Hadi yang hubungannya terjalin karena aku menikah dengan mas Oto. Aku sanggup. Ini hidupku. Tidak ada kata menyerah dalam kamus hidupku,” semangat Diah berkobar di hatinya.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

"Deburan ombak di lautan, tak sebesar deburan ombak di dadaku, Dik!" Kata hati Pak Kanjeng.

12 Mar
Balas

Hehe gitu yaa.Pak? Bagaimana Bimteknya hari ini

12 Mar

Baru selesai pembukaan oleh Bp. Direktur Pembinaan SMA. Nanti pk 19.30 masuk lagi.

12 Mar

Tulisan Bunda semakin keren..

12 Mar
Balas

Sayangku, ini tulisan lama rencana mau direvisi biar tambah enak dibaca..

12 Mar

Insya Allah Diah berhasil Bu

12 Mar
Balas

Aamiin YRA gmn besok tgl 17-18 jadi gabung?

12 Mar

Semoga Diah berhasil ya Bund....Baarokallah.

12 Mar
Balas

Ini baru awal dari kehidupan Diah berkeluarga Bu.perlu adsptasi dan strategi

12 Mar

Wah ibu pandai sekali menulisnya Saya diajari ya bu? Di pikiran saya ada banyak hal yg ingin sy tulis tapi tidak tahu cara memulainya

12 Mar
Balas

Ibu nulis dan banyak baca. Nulis itu bak kita ngobrol dengan diri kita sendiri. seelah itu diendapkan 24 jam baca lagi

12 Mar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali