Sri Sugiastuti

Mendidik dengan hati, berdakwah lewat tulisan, membaca dengan kaca mata 5 dimensi,selalu ingin berbagi dan menjaga silahturahmi. Tulisan adalah warisan yang ber...

Selengkapnya
DEBURAN OMBAK WAKTU ( 51 ) DERITAKU

DEBURAN OMBAK WAKTU ( 51 ) DERITAKU

12. Deritaku

Sejak tadi sore Diah sudah menyiapkan semua perlengkapan yang harus dibawa ke rumah bersalin. Rasanya kesiapannya menghadapi kelahiran kali ini sangat berbeda dengan kesiapannya ketika melahirkan Aya. Status dirinya ketika melahirkan Aya waktu itu dan saat ini berbeda 180 derajat. Ada Marwoto yang menyayangi dia, usianya yang sudah matang, dan ini buah cinta mereka.

“ Ayo kita ke rumah bersalin sekarang.! Biar Aya diurus Eyang Hadi.” Ajak Marwoto

“ Nanti dulu Mas, perutku belum terasa sakit. Aku ingin menyelesaikan bacaan dongeng ini untuk Aya.” jawab Diah beralasan.

“ Itu ngga penting Ma. Ayo lah berangkat sekarang!” nada suara Marwoto mulai meninggi

Diah yang mulai paham dengan gelagat itu, tidak berani membantah. Dia segera ganti baju dan setengah berlari menuju mobil yang sudah dihidupkan Marwoto selepas dia menyuruh Diah segera berangkat. Di perjalanan menuju rumah bersalin suasana hati Diah jadi bad mood. Akhir akhir ini Marwoto bersikap tidak sabaran, dan banyak maunya.

“ Aneh, mengapa Mas Oto jadi nyebelin gitu sih? Mana sikap manisnya yang dulu? Atau karena perutku yang membuncit dan tidak cantik lagi di matanya? Perasaan aku sudah mengimbangi, dan berusaha menuruti apa maunya. Koq masih kurang pas di matanya?” bisik hatinya.

Marwoto membiarkan Diah membawa tas yang cukup besar itu. Dia melenggang sambil tebar pesona di sekitar orang yang dijumpainya. Dia meletakkan pantatnya di kursi yang ada di ruang tunggu, sementara Diah sibuk mendaftar dan menunggu instruksi selanjutnya. Diah menghampiri Marwoto yang sedang asyik membaca Koran dan tidak menggubris keberadaan Diah di sampingnya. Baru sekejap Diah duduk, perawat memanggilnya agar segera masuk ke kamar perawatan.

“ Ibu istirahat dulu ya di kamar perawatan, nanti kalau dokternya sudah datang saya jemput pakai kursi roda,” kata perawat yang mengantarnya.

Perawat itu memperhatikan Diah dan suaminya. “Biasanya suami yang mengantar istrinya yang mau melahirkan terlihat peduli dan penuh perhatian, koq ini cuek bebek?”

Diah yang diperhatikan perawat ngga peduli, Mulutnya komat-kamit berdzikir sambil menahan sakit yang semakin sering dirasakannya. Iah menghibur hatinya.

“Dulu waktu melahirkan Aya aku lebih menderita dari sekarang. Mengapa harus kuambil pusing dengan sikap Mas Oto yang menjengkelkan akhir-akhir ini? Biarkan saja, mungkin sikap nya itu hanya kompensasi dari kekhawatirannya menghadapi istri yang sedang berjuang dan akan menghadiahinya seorang bayi mungil.”konsentrasi dzikirnya terganggu.

“Seperti apa pun sikapmu tidak membuatku membencimu Mas Oto. Setelah menikah denganmu, statusku jadi jelas, Aya punya papa yang bisa dibanggakannya, Aku bmampu mencurahkan kasih sayangku kepada keluarga Mas Oto, termasuk kepada Eyang Hadi walau statusnya dia mertua Mas Oto dari istrinya yang pertama. Ahhh mengapa pikiranku jadi runyam, padahal belum tentu Mas Oto seperti yang aku pikirkan.” Lamunannya buyar ketika mendengar langkah kaki dan suara dokter masuk ke ruang bersalin.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Semoga persalinannya lancar ya...Bunda. Baarokallah.

14 Mar
Balas

aamiin YRA

15 Mar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali