Sri Sugiastuti

Mendidik dengan hati, berdakwah lewat tulisan, membaca dengan kaca mata 5 dimensi,selalu ingin berbagi dan menjaga silahturahmi. Tulisan adalah warisan yang ber...

Selengkapnya
Di Balik Tajamnya Lidah ( 4) Tamat

Di Balik Tajamnya Lidah ( 4) Tamat

Ibu begitu sibuk menyiapkan peringatan 1000 hari wafatnya Bapak. Untu kegiatan ini ibu melibatkan aku. Jauh hari sebelum hari H ibu sudah menyusun acara, menu, souvenier, dan parnak-pernik acara itu. Padahal masih sepuluh bulan lagi tapi sudah diingat-ingat terus. Semua anaknya sudah masuk daftar dan siap-siap dengan instruksi ibu dari mulai beli kambing, kijing, souvenir untuk kerabat, sembako untuk kaum duafa, dan tetek bengek lainnya. Pokoknya semua harus berperan aktif dan ibu maunya peringatan ini bisa berjalan dengan sukses.

“Ibu…, ibu tidak ingat apa, waktu ibu mencaci maki bapak, karena ketahuan bapak menikah lagi dan punya anak. Ibu bakar semua baju bapak, dan ibu usir bapak dari rumah.” Mas Alif mengingatkan kelakuan ibu waktu marah besar kepada Bapak.

Maklum waktu itu ibu memang murka luar biasa ibu malu, kecewa, dan merasa dikhianati. Tapi dengan berlalunya waktu dan menjalani proses pengendapan alias cooling down, hati itu bisa jernih dan bisa menerima bapak dengan segala kekurangannya. Terutama menjelang sakratul maut menjemput bapak.

Kuhargai semua jerih payah ibu, untuk melupakan kepahitan cintanya karena dikhianati bapak. Kusesali kompensasi ibu yang berlebihan dengan melepas bebas hawa nafsu belanjanya, yang tidak ingat, usia, asas manfaat, dan pola hidup sederhana, selalu saja lapar mata, selalu saja termakan iklan, selalu saja ingin memiliki apa yang belum pernah dimiliki, padahal semuanya berorientasi hanya pada dunia. Nafsu untuk memiliki segala sesuatu yang branded masih saja lekat.

“Apa dia kira usianya akan mencapai seratus tahun? Dan masih bisa menikmati barang-barang tersebut? Aku kadang mengelus dada jika teringat kelakuan ibu.

Kalau dipikir dan dikaji sebenarnya ibu aktif ikut pengajian, tapi maaf maaf ya yang bisa diterima ibu baru sedikit sekali yang bisa diamalkan. Karena ibu mengamalkannya masih pilih-pilih. Ayat yang ini cocok untukku, kalau ayat yang keras melarang untuk dikerjakan, ibu masih mengelak. Contohnya ibu masih percaya dengan dukun, atau para normal. Alasan ibu itu salah satu dari ikhtiar untuk mencari kesembuhan. Padahal pengobatan yang diberikan sagat tidak nalar. Cukup hanya air mineral yang sudah di isi dengan wiridan bisa mengobati penyakit, dan juga memecahkan berbagai masalah.

Masih saja kepikiran di benakku.

“Mengapa nafsu belanja itu menguntit ibu terus? Ibu seharusnya bisa mengekang hawa nafsunya yang berlebihan, agar tidak jadi orang yang boros dan jadi temannya setan. Ingin sekali aku mengerem nafsu belanja ibuku, dengan mengatakan” Lebih baik uang itu disodaqohkan dari pada untuk beli tas”. Tapi aku tak punya hak .

“Siapa aku ini, koq berani-beraninya memberi saran seperti itu. Memangnya aku tahu kalau ibu dalam bersodaqoh kurang? ‘ Hati kecilku selal mengingatkan.

Kalau mulutnya yang nyinyir terhadap pembantu, sebenarnya aku juga risih mendengarnya. Apalagi si Ijah sering curhat sama aku. Aku bisanya cuma menenangkan hati Ijah

.” Maafkan ibu Jah, di mata Allah kamu manusia paling mulia, kalau kamu mau memaafkan ibu, dan mendoakan agar beliau cepat sadar dan tidak selalu memarahi dirimu. Maklumi saja sifatnya, kamu juga jangan ngeyel. Pokoke enggih enggih mengko ra’ kepanggih he he he.” Selalu aku menghiburnya.

Wadoh, aku jadi takut dan was-was,usia ibu hampir kepala delapan, kalau sewaktu-waktu malaikat menjemput ibu belum nyadar, dan minta maaf sama si Ijah gimana?Kalau si Ijah selalu memaafkannya tanpa diminta, Kalau si Ijah ikhlas dan ridha dengan segala ucapan ibu yang menyakitkan., kalau tidak ciloko Ibu. Dan yang paling mengerikan bila tiba-tiba semua nikmat yang ibu dapat dari Allah dicabut, misalnya terserang stroke gitu, terus mulutnya mencong alias merot, apa dia masih bisa memarahi si Ijah karena lamban melayaninya, atau mengerjakan yang tidak pas dengan perintahnya. Belum lagi kalau sekonyong-konyong koder tidak bisa menggerakkan seluruh anggota tubuhnya, apa dia masih bersemangat ngajak aku hunting barang-barang merk yang sedang didiscont?” Mulai lagi aku berhalusinasi dengan pikiran kotorku.

Weleh, weleh. Ternyata semua nikmat yang kita miliki bisa musnah seketika tanpa izin sebelumnya pada kita. Kita wajib bertobat setiap saat untuk dosa-dosa yang kita perbuat,baik yang disengajaja maupun yang tidak kita sadari. Sebab seringkali maksud dan niat kita baik, tapi bisa diterima tidak baik oleh orang yang merasa kurang pas untuk ukuran dia, atau kurang tepat waktu kita menyampaikannya.” Terus aja aku menelaah persoalan ini.

Aku berharap, ibu bisa berubah sedikit demi sedikit, dengan pedoman tidak ada kata terlambat, untuk bertobat. Aku berkewajiban mengubah mindsetnya agar tidak mengedepankan nafsu belanjanya., sifat terburu-buru alias kemrungsung, sifat arogannya pada pembantu, dan ketergantungannya pada paranormal.Aku kewatir ketika ibu “ dijemput”dia belum sempat bertobat.

“Hidayah tidak akan datang bila tidak diusahakan dan bila Allah tidak menghendaki.” Kalimat itu pernah aku dengar dari seorang Ustadzah yang sedang memberi pencerahan.

Sebelum ibu pergi untuk selamanya aku sempat berbagi dan aku lebih sering mengajak ibu ngudar roso dalam hal-hal yang menjurus pada kebaikan dan bercerita tentang orang-orang yang mendapat hidayah dari bacaan-bacaan yang pernah kubaca. Terutama yang kupakai untuk acuan dalam bercerita adalah dari buku “Riyadhus sholihin.” Kegiatan ini paling tidak bisa meminimalisir sifat ibu yang hobbynya hunting barang mewah, arogan dengan orang dan lebih percaya klenik dari pada Qur’an dan Hadist.

Selamat jalan ibu sayang, walau kau bukan ibu kandungku, tapi kau wanita hebat yang mewarnai hidupku. Bagiku kau wanita yang dikirim Allah agar aku sadar bahwa dunia penuh dengan kebaikan dan kemaksiatan. Pelajarilah dan jangan sampai ikut arus yang merugikan diri sendiri.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

MasyaAllah..indah sekali tulisan Bunda. Edit smp larut dg ceritanya..barakalloh Bunda

13 Mar
Balas

Alhamdulillah..bagian dari cara saya mengenangnya. Hitam putih sifat manusia

13 Mar

Hehe...orang tua, lebih2 ibu2, mmg suka bgt. Asal kita sabar, insya Allah akan sadar juga.

13 Mar
Balas

Dulu kita dimong sekarang saatnya ngemong.Kalau beliau masih hidup bisa jadi ladang amal ibadah kita.

13 Mar

Bunda...., terimakasih sudah mengingatkan banget. Baarokallah...Bunda.

13 Mar
Balas

Dalam suatu hubungan pasti lah ada gesekan ,dan bila kita bisa memaknai juga mau intropeksi maka akan indah pada waktunya

13 Mar

Super banget bun. Jd teringat kala kita juga ngeyel kalau diberi tahu emak. Semoga semua emak kita diberi kesehatan. Positive thinking aja, marah beliau adalah lagu pengantar tidur kita

13 Mar
Balas

Bener Bu, kalau ortu sfh tiada baru terasa bahwa beliau mewarnai kehidupan kita.

13 Mar

Wow, seolah saya berada di dalam cerita bunda, menyimaknya saat bunda bercerita lewat tulisan keerreen

13 Mar
Balas

Alhamdulillah bila pesan saya sampai ke pembaca

13 Mar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali