Sri Sugiastuti

Mendidik dengan hati, berdakwah lewat tulisan, membaca dengan kaca mata 5 dimensi,selalu ingin berbagi dan menjaga silahturahmi. Tulisan adalah warisan yang ber...

Selengkapnya
FILOSOFI BATIK

FILOSOFI BATIK

Filosofi Batik

Oleh: Sri Sugiastuti

Efek positif punya banyak komunitas di group WA, salah satunya dapat kesempatan emas mengunjungi museum Batik Danar Hadi. Komunitas blogger Solo bisa ngulik tentang seluk beluk keberadaan Museum Batik Danar Hadi.

Tepatnya tanggal 30 September 2018. Mulai pukul 14.00- 17.00 sesuai undangan lewat WA, kami diundang untuk mengunjungi Museum tersebut. Menurut saya ini bagian dari mengedukasi blogger tentang batik dan pernak-perniknya. Ibu Asti Suryo Astuti sebagai Asisten Manajer Museum Danar Hadi Surakarta,

Kita mengetahui bahwa UNESCO menyatakan bahwa Batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity), sejak 2 Oktober 2009. Indonesia lah yang memiliki hak Cipta yang diakui dunia, ini menjadi suatu kebanggaan tersendiri.

Di awal Bu Asti , menjelaskan cara memakai kain bangsawan di Surakaarta dan Yogyakarta berbeda. Begitu juga dengan ciri dan kekhasan masing-masing. Misal motif batik kawung. Kalau di Jogyakarta motif Kawung dipakai oleh para bangsawan, tetapi kalau di Solo motif Kawung identik dengan seragam abdi dalem Kraton.

Mendengar kisah sejarah batik yang begitu lengkap, membuat penikmat batik jadi terkaget kaget. Banyak yang membuat saya kagum dengan kekayaan dan aneka ragam batik. Dari mulai motifnya sebagai bukti tingginya budaya dan seni yang ada di Indonesia.

Masing-masing keraton yakni Surakarta dan Yogyakarta, serta dua istana kadipaten Mangkunegaran dan Pakualaman, turut memengaruhi kekhasan batik yang ada di Surakarta dan Yogyakarta.

Saat ini jika wisatawan berkunjung ke Surakarta atau Yogyakarta, maka akan banyak dijumpai berbagai benda dan suvenir dengan motif batik untuk dibawa pulang.

Selama ini mungkin banyak orang menganggap bahwa budaya batik hanya berhubungan dengan keraton. Namun fakta tentang batik ternyata lebih luas batik dikenakan mulai dari bangsawan hingga kaum jelata di Indonesia sudah akrab dengan batik. Mungkin itu lah salah satu alasan Pak Santosa pemilik pabrik Danar Hadi di Solo, membuat museum batik.

Museum Batik Danar Hadi.

Museum Batik Danar Hadi tepatnya berada di Jalan Brigjend Slamet Riyadi Nomor 261, Sriwedari, Laweyan, Kota Surakarta. Museum Danar Hadi diresmikan oleh Presiden Megawati Sukarno Putri pada 20 Oktober 2000. Museum ini buka dari pukul 09.00 WIB sampai 16.30 WIB dengan tarif masuk Rp35.000,00 untuk umum dan Rp15.000,00.

Menurut Bu Asti, misi pendirian museum ini yang pertama adalah untuk melestarikan dan mengembangkan seni batik, sebagai sarana pendidikan, dan sebagai obyek wisata di Kota Surakarta. Tempat ini pun sangat cocok bagi mereka yang ingin mengembangkan wawasan dan pengetahuan seputar batik.

Ayo yang ingin paham tentang pernak pernik batik bisa datang mengunjungi museum batik Danar Hadi

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Apalagi waktu dikisahkan banyaknya motif batik yang dipengaruhi zaman. Sejak zaman VOC hingga dijajah Jepang Batik terus berkembnag dengan berbagai pengaruhnya

10 Oct
Balas

Insya Allah, semoga bisa ke sana. Luar biasa ya bunda batik kita. Semakin bangga ni pakai batik. Jazakumullah khoiron katsiro infonya bunda. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah.

10 Oct
Balas

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali