Sri Sugiastuti

Mendidik dengan hati, berdakwah lewat tulisan, membaca dengan kaca mata 5 dimensi,selalu ingin berbagi dan menjaga silahturahmi. Tulisan adalah warisan yang ber...

Selengkapnya
Hari Hari Sepi dan Setan Setan Itu

Hari Hari Sepi dan Setan Setan Itu

Hari Hari Sepi dan Setan Setan Itu

Oleh: Sri Sugiastuti

“Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri (QS.Al-Hadid 57:23)”

Hidup berjauhan dengan orang orang yang kucintai sangatlah pahit. Hari sepi dan rasa rindu tetap kurasa. Sebaik baik rumah Bunda aku tetap kangen dengan suasana rumah kontrakanku, termasuk dengan penghuninya. Aku merasa di rumah kontrakan itu aku bisa bebas, merdeka dan bereksprisi sesuka hatiku. Aku bisa menentukan mana yang harus ku kerjakan lebih dulu. Aku bisa minta tolong dengan penghuni rumah, aku bisa memutuskan mana yang harus kukerjakan lebih dulu. Semua fleksibel menurut kata hati dan skala prioritas yang kuinginkan. Aku yang paham mana yang haarus kujalani lebih dulu.

Di rumah Bunda aku harus ikut dengan aturan yang ada di rumah itu. Padahal kadang ada hal hal yang kurang pas dengan keadaan yang sedang kualami. Apalagi kalau sedang bad mood alias Bete, aku harus tetap ikut aturan yang ada di rumah Bunda. Posisiku numpang walau itu rumah orangtuaku . Jelas tidak senyaman di rumahku sendiri, yang amat sederhana dengan segala keterbatasannya. Tapi di rumah itu aku sebagai ratu. Seorang istri, seorang ibu yang bicaranya didengar, yang keputusannya diamini oleh penghuni rumah, aku yang mengatur.

Aku mengalami homesick yang berkepanjangan. Aku kangen teman teman guru, aku kangen ibu-ibu pengajian di kampung, sohibku sesama pengurus TPA, yang biasa saling memberi semangat dan berbagi dalam suka dan duka. Aku juga rindu ssenyum manis dari santri TPA yang biasa aku jumpai di saat kegiatan TPA, atau ketika berpapasan dengan mereka. Mereka akan menyapa dengan manisnya, dan tertawa ceria ketika kulambaikan tanganku atau kujawab salamnya.

Semua itu tidak kujumpai di Jakarta yang serba sibuk. Berdesak-desakan dalam Metro Mini, atau menunggu di Angkot pun tanpa senyum, karena individu mereka begitu kental, dan sibuk dengan pikirannya masing masing. Di saat itu lah pikiranku menerawang jauh, sampai kapan aku terjebak dalam posisi seperti ini. Padahal mas Ardani dengan penuh kesabarannya memintaku untuk memaafkannya dan segera kembali ke pelukannya.

Aku masih mondar mandir ke sekolahku yang lama, berharap semua berkas kepindahanku bisa segera tuntas dan aku segera mendapat SK mutasi yang jelas. Saat itu masih mengambang. Sekolah ku yang baru oke-oke saja. Sedang sekolahku yang lama ternyata mempersulit surat “lolos butuh” ku. Aku harus bersabar.

Ketika aku harus kembali ke Jakarta, dan membeli tiket di stasiun ada orang asing yang ikut antri di belakang antrianku, dari logat dan postur tubuhnya aku tahu dia orang Korea. Dia sempat menyapaku, dan aku menjawab sekedar basa basi. Setelah tiket ku dapat aku segera menumpang becak menuju rumah. Tiba-tiba ketika hampir sampai di mulut gang rumahku ada mobil berhenti, kuamati mobil dan pengendaranya,ternyata si Korea yang aku jumpai di stasiun tadi.

Aneh. Aku merasa ada yang tidak beres. Nalarnya aku harus GR atau salah tingkah ya. Jelas aku dalam keadaan stress, kucel, dan seadanya. Maklum posisi pulang sekolah, dalam keadaan capek, wajahku juga berminyak campur keringat, tanpa polesan make up sama sekali. Ada apa dia membuntutiku sampai rumah. Aku tidak menyuruhnya singgah, atau menegurnya, ku biarkan mobil itu lewat perlahan di depan rumahku. Aku tidak turun dari becak, sampai mobil itu menghilang di ujung gang rumahku.

Malam ini aku kembali ke Jakarta. 20 menit sebelum kereta berangkat, aku sudah duduk manis, di gerbong kereta sesuai dengan nomer kursi . Aku berharap kursi di sebelahku kosong sehingga perjalananku akan lebih nyaman. Aku bisa tidur lelap dan besok pagi bisa langsung mengajar tanpa rasa lelah sedikit pun.

Peluit petugas stasiun berbunyi, tanda kereta akan segera berangkat.Tiba-tiba aku melihat ada salah satu penumpang yang tergopoh-gopoh memasuki gerbong kereta, dan berjalan sambil mencocokan nomer kursi dengan tiket yang dia pegang. Dia berhenti di dekatku dan mengamati nomer kursi yang tertera di atas tempat dudukku. Aku mengamatinya sekali lagi.

Astaqfirullahalazim. Itu kan si Korea yang membuntuti becakku tadi siang,batinku berkata lirih.

Excuse me, May I sit here”. Ucapnya padaku.” Sure’ Jawabku singkat. Pupus sudah asaku mengharap kursi itu kosong. Karena dia membuka percakapan, aku ngga bisa pasang wajah jutex. Terpaksa kami mengobrol walau dia tidak terlalu fasih berbahasa Indonesia jadi sesekali kami selingi dengan bahasa Inggris.

Kalau mau tahu perasaanku waktu itu, gimana ya. Jelas ada rasa kurang nyaman, tapi di sisi lain aku jadi tahu tentang Korea, pekerjaannya, keluarganya, dan aku bisa memperhatikan kepribadian, Model pria seperti apa dia. Perjalanan malam itu, jadi terasa singkat, karena kami bisa ngobrol dan nyambung. Kami akhirnya bertukar nomer telpon dan alamatnya di Jakarta. Ternyata dia sering ke kotaku karena ada beberapa pabrik textile yang harus diaudit olehnya.

Si Korea itu namanya Henry. Postur tubuhnya tinggi, matanya sipit, hidungnya mancung, giginya rapih, usianya sebaya dengan usiaku waktu itu. Sejak itu dia rajin telpon di malam hari. Kalau telpon lama sekali. Bunda kadang marah dan mengingatkanku.” Nduk, urusanmu belum selesai, jangan ditambah dengan masalah masalah yang tidak penting yo”

“ Bun, dia cuma teman, kebetulan enak diajak ngobrol, aku ngga serius dan ngga minat sama dia” Begitu jawaban yang kuberikan ke Bunda. Walau aku sempat Nge “date” sekedar makan malam, lalu menyamakan misi, tapi batinku berkata tidak. Ini hanya bagian dari ujian hidupku, aku harus bisa menghalaunya jauh jauh. Bukan tindakan ini yang ku jadikan sarana membalas kedzoliman suamiku.

Jadi waktu dia mengajak untuk lanjut ke jenjang yang lebih serius aku mengelak, dan berkata tegas. Aku tidak berani mengambil resiko dan tidak punya nyali untuk menerima cintanya. Aku harus berpikir jernih dan membuang semua rasa sakit hatiku yang disebabkan oleh ulah suamiku yang sudah selingkuh dan medzolimiku. Aku sadar tindakanku tidak akan menyelesaikan masalah, yang ada malah bertambah masalah.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Woow.. Cerita yg seru nih Bunda.. Jd penasaran dg kelanjutannya

09 Nov
Balas

Iya nanti dilanjutkan hehehe

09 Nov

Bunda, ini ceritanya bersambung kan bun ? Ditunggu lanjutannya ya bun. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah, bunda.

09 Nov
Balas

Insyaallah Bu Nana.. mengasah keterampilan agar tidak buntu Jazakillah Khairan

09 Nov

Wowwww terbawa alam cerita nih bund, ditunggu deh lanjutannya

09 Nov
Balas

Siap Selamat beraktifitas Bu Siti

09 Nov

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali