Sri Sugiastuti

Mendidik dengan hati, berdakwah lewat tulisan, membaca dengan kaca mata 5 dimensi,selalu ingin berbagi dan menjaga silahturahmi. Tulisan adalah warisan yang ber...

Selengkapnya
IBADAHKU MiNIMALIS (2)

IBADAHKU MiNIMALIS (2)

IBADAHKU MINIMALIS ( 2 )

Oleh : Sri Sugiastuti

Kami tinggal di “Pondok Mertua Indah” yang letaknya 15 Km dari tempat saya mengajar. Sebuah desa kecil yang subur, berudara segar dan kental dengan suasana pedesaan yang membuat hati dan pikiran tenang. Bila di Jakarta terasa waktu berjalan cepat, tapi di desa berbalik lambat. Ketika matahari tenggelam, malam pun terasa panjang. Saya bisa istirahat cukup dan merenungi apa yang menjadi tujuan hidup saya. Hal ini sangat menguntungkan. Saya punya banyak waktu untuk mengingat Allah.

“Sebentar lagi umurmu 30 tahun Astuti. Bagaimana ibadahmu? Masih ingatkah kau dengan mimpimu untuk bisa pergi haji? Masih ingatkah kau dengan ustadzah Salma yang kau idolakan? Kapan kau mau belajar ngaji lagi seperti dulu?” Masih banyak pertanyaan pertanyaan lain yang mengaduk aduk perasaan saya. Betapa saya sudah jauh dari cita cita yang saya inginkan sejak dulu.

Di desa, saya mulai bersyukur ketika melihat di sekeliling saya yang jauh berbeda ketika saya ada di Jakarta. Orang desa melihat saya kami sebagai pendidik yang bisa menjadi panutan. Biasanya mereka yang lebih tua memanggil saya Mba Guru sedangkan yang lebih muda menyebut saya dengan Bude Guru. Saya bangga dengan panggilan itu. Hmm dari segi batin saya sangat bahagia, tapi segi materi keluarga kami limbung. Penghasilan kami ibarat pohon yang sedang tumbuh tetiba dicabut lalu dipindah le tempat lain. Tanaman itu layu sesaat. Ia perlu adaptasi, colaps sementara. Untungnya saya tidak stress.

Seiring kedatangan saya di desa itu terbentuk sebuah pengajian ibu ibu yang diadakan tiap malam jumat. Kegiatan ini punya kekuatan yang luar bisa bagi diri saya. Semangat saya untuk ibadah dan belajar mengaji kembali menyala. Saya rela seminggu tiga kali datang ke rumah Bu Rahman seorang guru ngaji yang tinggal di lain desa. Saya sempatkan setelah bada asar mengunjungi beliau. Saya belajar ngaji hingga menjelang magrib. Saya banyak belajar dari kehidupan yang beliau jalani.

Rumah beliau sangat sederhana. Belum diterangi dengan listrik. Dinding bambu berpoles kapur, lantai tanah, papan tulis dan beberapa bangku reyot dengan dipan beralas tikar untuk salat mengisi ruang tamu yang cukup luas. Ketika mata saya menjelajah ke dapur, di situ hanya ada bale bambu, tempayan, beberapa alat masak yang bagian bawahnya berwarna hitam karena terlalu lama digunakan untuk masak dengan bahan bakar kayu yang diambil dari kebun pekarangan rumahnya.

Suatu hari saya sempatkan melihat suasana di luar rumah Bu Rahman. Ia memiliki pekarangan yang cukup luas. Pekarangan yang ditumbuhi aneka jenis tanaman. Pohon sawo,sirsak, jambu, nangka dan .tanaman keras lainnya ada di pekarangan rumah Bu Rahman. Dan akhirnya mata saya tertuju pada jamban yang ada di bagian belakang rumah yang di kelilingi pohon bamboo. Sedangkan tepat di belakang dapur ada sumur timba yang cukup dalam dengan diamer cukup lebar. Karena waktu itu musim kemarau terlihat sangat dalam.

“Pasti memerlukan tenaga yang ekstra untuk bisa menimba air dari dalam sumur. Kasian juga Bu Rahman bila tiap hari harus menimba air untuk keperluan MCK (mandi, cuci, kakus).”

Masih ada lagi yang tak luput dari pengamatan saya sebuah kandang ayam yang tidak terlalu luas yang terletak dekat pohon sirsak. Saya lihat ayam Bu Rahman cukup banyak. Hewan itu sebagai asetnya yang bisa dijual saat ia membutuhkan uang. Pekerjaannya sebagai guru ngaji di desa tidak cukup untuk menghidupinya. Banyak hikmah yang bisa saya dapat dari belajar ngaji di rumah Bu Rahman. Perlahan tapi pasti saya mulai cinta Al-Qur’an, walau dalam membaca Al-Qur’an saya masih pilih pilih surat. Surat yang saya pilih yaitu Surat Yaasin, Mulk, Waqi’ah, dan Ar-Rahman. Karena cinta saya dengan surat Yaasin begitu dahsyat, anak kami yang bungsu kami beri nama Yaasin.

BERSAMBUNG

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Di tunggu bu kelanjutannya

03 Jun
Balas

Sudah ada di buku saya Catatan hati Menuju Baitullah. Siap mengunjungi Ibu di Wonosobo

03 Jun

Wow, memoar yaaaa

03 Jun
Balas

Yoi, minta antri supaya dibaca bu Ismi nih..

03 Jun

Memoar yang "indah", baru baca dikit bunda. Ntar setelah selesai "e-rapor" pasti jadi santapan bergizi. Salam sehat dan sukses selalu buat bunda. Barakallah.

03 Jun
Balas

Alhamdulillah, saya tunggu juga karya Bu Nana dalam bentuk memoar untuk warisan abadi anak cucu.

03 Jun

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali