Sri Sugiastuti

Mendidik dengan hati, berdakwah lewat tulisan, membaca dengan kaca mata 5 dimensi,selalu ingin berbagi dan menjaga silahturahmi. Tulisan adalah warisan yang ber...

Selengkapnya
JAKARTA-JEDDAH NAN NIKMAT

JAKARTA-JEDDAH NAN NIKMAT

Pesawat berangkat sesuai jadwal, lama penerbangan diperkirakan 9 jam tanpa transit. Perbedaan waktu antara Jakarta Jeddah sekitar 5 jam. Pelayanan dari seluruh awak crew pesawat sangat ramah. Ketika lepas landas hati saya sempat berdesir sambil menatap langit cerah lewat jendela. Saya ulang sekali lagi melafaskan doa melaksanakan perjalanan;”Bismillahi majreha wa mursaha inna rabbi laghafururrahim.”

(Dengan nama Allah sewaktu berlepas dan mendarat. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang)

Ada kepasrahan setelah saya melafaskan doa tersebut, tak lama lagi saya akan menginjakkan kaki saya di bumi Haram. Tempat Nabi Ibrahim, Siti Hajar dan juga Nabi Ismail hamba Allah yang sangat taat. Saya masih asyik dengan bayangan saya tentang Mekkah dan ibadah saya ketika terdengar suara pramugari yang menawarkan minuman dan snack. Saya mengambil paket snack itu dan memilih jus apel sedang ibu saya ambilkan teh hangat.

Saya nikmati roti isi daging yang baru saja saya terima. Karena lapar tidak sampai 2 menit roti itu sudah berpindah ke perut saya. Dan akhirnya ada perintah dari otak saya untuk segera ke toilet, perasaan ingin buang air kecil tidak bisa saya tahan. Saya permisi pada ibu dan menuju ke toilet. Ketika melewati lorong menuju ke toilet saya lihat begitu banyak temat duduk yang kosong. Mata saya seakan tak percaya melihatnya.

Selesai buang air kecil saya kembali ke kursi tempat saya duduk. Sambil berbisik pada ibu.

“Di bagian belakang tempat duduk kita banyak yang kosong Bu.” Kataku pada ibu

“Iya mba ini pesawat penumpangnnya ngga sampai 300 penumpang, padahal kapasitasnya 425 penumpang.”jelas adik saya.

Timbul akal saya untuk memanfaatkan peluang tersebut.

“Ibu nanti selesai pembagian jatah makan malam saya pindah ke tempat duduk yang kosong boleh ya, supaya ibu bisa leluasa juga duduknya.”pinta saya

“Ya, ngga apa apa, terserah saja.”jawab ibu.

Alhamdulillah setelah jatah makan malam saya santap, langsung saya bergegas menempati tempan kosong sambil membawa Al-Quran kecil yang saya miliki. Saya baca lembaran Al-Qur’an itu dari halaman pertama. Saya memang berniat tadarus saya awali dari atas pesawat.

Tiga kursi kosong sudah jadi hak sementara saya untuk ditempati, berarti, setelah mengaji saya bisa tidur nyenyak di pesawat ini.” Hmmm siapa bilang bepergian dengan pesawat dalam waktu yang lama itu melelahkan? Nyatanya Jakarta - Jeddah serasa naik bus malam yang kosong glondang dan bisa tidur nyenyak.

“ Terima kasih ya Allah, Kau berikan kenyamanan dalam perjalanan ini.”

Saya terbangun mendengar suara pramugari yang ramah menawarkan minuman dan snack kepada penumpang yang ada di depan. Ketika pramugari mendekat saya bertanya:

“Mba. Masih lama kah perjalanannya?”

“Satu jam lagi kita akan mendarat di bandara King Abdul Aziz.”jawabnya.

Saya meregangkan otot badan saya dan terasa nyaman sekali. Alhamdulillah berarti saya bisa istirahat dengan nyaman semalam. Saya lipat selimut yang tadi saya pakai setelah itu bergegas ke toilet untuk sekedar cuci muka. Setelah itu saya kembali menghampiri ibu yang saya tinggal sejak tadi.

Saya lihat ibu sedang mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Melihat saya datang ibu tersenyum.

“ Hmm, pasti tidurmu nyenyak ya nduk?”

“He he, iya bu.”jawabku tersipu

“Ibu sudah dapat snack sama minum?”

“Sudah, dan sekarang Ibu mau minum obat biduran, rasanya sudah mulai gatal karena kedinginan”

“ Mana, coba saya lihat obatnya?” Ibu menyodorkan tempat obatnya

“Itu loh nduk, yang kuning kecil sama yang bulat putih agak besar.” Yang ibu maksud adalah tablet CTM dan Kalk.

“Tolong ambilkan pisang di tempat kue itu nduk?” tangan saya sibuk mencari tempat kue yang ada di tas ibu. Ibu nampak tidak sabar dan ingin mencarinya sendiri.

“Sebentar bu, ini ada di paling bawah rupanya.” Saya patahkan pisang itu jadi dua dan saya kupas segera lalu saya berikan pada ibu untuk minum obat.

Pengumuman kalau sebentar lagi pesawat akan mendarat dan penumpang dimohan mengenakan sabuk pengaman terdengar dua kali. Dan saya mematuhi perintah itu sambil menoleh ke tempat duduk ibu.

Nduk, ibu pengen pipis.”

“Ibu pakai pampers kan, pipis saja, nanti kalau turun dari pesawat tinggal dilepas ganti pampers.” Jelas saya

Saya arahkan pandangan saya ke jendela, dari atas pesawat terlihat lampu yang menghiasi gedung dan jalan jalan yang ada di Jeddah. Pesawat mendarat dengan mulus. Kami dimohon bersabar hingga pintu pesawat dibuka dan dipersilahkan turun.

Saya harus bersabar karena sesuai dengan peraturan penumpang dengan kursi roda ketika turun harus paling akhir. Kegelisahan mulai nampak di wajah ibu.

“Nduk, pampersnya bocor . ibu ngompol. Baju ibu juga kena ompol dan risih.”

Saya mendengarnya antara kesal dan ingin menahan tawa. Tapi semua sudah terlanjur basah, ketika ibu meninggalkan kursi pesawat saya lihat gambar pulau Kalimantan ada di bangku yang baru saja ibu duduki. Saya segera menutupi gambar peta itu dengan selimut yang ada.

Pembagian tugas dimulai. Saya mendampingi ibu turun dari pesawat, sementara adik saya mengurusi koper dan imigrasi. Khusus jamaah haji yang mempunyai riwayat penyakit berisiko tinggi memang mendapatkan pelayanan khusus. Ada lift yang menghubungkan langsung sampai di ruang tunggu yang luas. Tak lama saya menunggu, adik saya menghampiri dan berkata;

“Yuk nunggu di sana. Masalah koper sudah beres.” Saya heran. Katanya pemeriksaannya ketat, lama dan sering banyak barang yang disita.

“Lolos semua Dik, ngga dibongkar-bongkar dan diperiksa kopernya? Tanya saya tak percaya.

“Ngga tuh, semua tanpa pemeriksaan yang ketat, sudah lelah kali petugasnya. Kita kan kloter terakhir di dunia sudah tidak ada lagi jamaah yang datang melalui bandara.

“Alhamdulillah.” Tak terbukti apa yang diceritakan orang bahwa pengurusan barang bawaan di bandara sangat ribet dan banyak barang yang disita.

Sambil menunggu bus datang, kami mengumpulkan passport, mandi, wudhu dan salat. Saya amati toilet di bandara tidak terlalu bersih, tapi juga tidak terlalu bagus. Kesannya tetap kotor walau air mengalir cukup keras. Untuk ruang ganti juga kurang memadai.

Cukup lama kami menunggu dan bisa saya manfaatkan untuk membaca Al-Qur’an beberapa halaman. Ibu sambil memegang tasbih terus berzikir. Saya tahu pasti beliau lelah sekali. Saya saja yang sehat merasakan jenuh dan ingin segera tiba di maktab, apalagi ibu yang kurang sehat dan fisiknya lemah.

Setelah menunggu cukup lama di bandara King Abdul Aziz, akhirnya kami menuju bus yang akan membawa kami ke Mekkah. Keluar dari bandara ponsel saya langsung terhubung dengan jaringan telpon yang ada di Jeddah. Masuk SMS dengan ucapan “Marhaban”.

Ibu selalu jadi prioritas utama ketika menaiki bus. Kondektur bus yang asli orang Mesir, tinggi besar langsung membopong ibu dengan kedua tangannya yang kekar dan agak kasar mendudukkan ibu di kursi paling depan, dan saya menyusul duduk di sampingnya.

“Be careful. She is old and weak.” Karena saya tidak bisa bahasa Arab jadi saya protes dengan bahasa Inggris.

“Its okay, but we are in hurry…!”kilahnya

“Any way, thanks”jawab saya.

Saya dan ibu yang duduk di depan dapat memandang dengan jelas panorama yang ada di luar dan sepanjang jalan yang kami lalui. Sepanjang mata memandang yang kami lihat adalah gundukan padang pasir. Mata saya mulai mengantuk ketika bus berhenti di tempat semacam SPBU, di mana telah disediakan jatah makan dan tempat untuk mandi,wudhu, dan salat. Kami mendapat paket air zam zam dan kurma yang bertuliskan hadiah dari Raja Arab Saudi. Saya buka bungkusan itu dan mengambil botol air zam-zam lalu membukanya

“ Ini bu, minum air zam zam,” kata saya sambil menyodorkan botol tersebut.

“Bismillah.” Ibu meminum air zam zam. Setelah itu saya mengambilkan jatah makan ibu.Saya izin padanya untuk ke toilet bergantian dengan adik saya.

“ Ibu belum pipis kan? salatnya di bus saja dan wudhunya tayamun ya. Repot kalau harus turun dan mengeluarkan kursi roda dari bagasi.”

Setelah ibu beres, saya mengurus diri saya sendiri. Ke toilet, wudhu dan salat, baru menuju barak yang menyediakan nasi kotak. Kotak itu berisi nasi yang ukurannya cukup besar tapi teksturnya keras, sepotong daging, sayur buncis dan kerupuk. Rasanya standar saja. Karena sudah dipesan agar tidak mencela atau komentar dengan apa yang diterima, maka segera saja denan mengucap bismilah saya santap makanan itu. Saya tak sanggup menghabiskan porsi besar itu.

“Alhamdulillah ya bu makanan ini bisa jadi kekuatan kita untuk melanjutkan perjalan menuju maktab kami di Mekkah.”ucap saya sambil melirik kotak nasi ibu yang hanya berkurang sedikit.

“Keras nasinya, nduk, dagingnya juga alot.” Protes ibu.

“Ibu mau regal, atau cracers? Saya ambilkan ya?” Ibu minum obat jadi perut harus diisi biar lambungnnya ngga kena.” Langsung kusodorkan kemasan kecil biscuit regal yang kami bawa dari Jakarta. Tak berapa lama menunggu bus akhirnya melanjutkan perjalanan menuju Mekkah

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

SMG lancar perjalanan Bu dan bundanya..semoga Sy dan yg blm ke baitullah pun d izinkan dan dimudahkan.Aamiin

01 Jun
Balas

Aamiin YRA Ini kisah perjlanan haji kami di tahun 2006dan sudah jadi buku memoar kalai ingin memiliki bisa WA di 089692593804

01 Jun

SMG lancar perjalanan Bu dan bundanya..semoga Sy dan yg blm ke baitullah pun d izinkan dan dimudahkan.Aamiin

01 Jun
Balas

SMG lancar perjalanan Bu dan bundanya..semoga Sy dan yg blm ke baitullah pun d izinkan dan dimudahkan.Aamiin

01 Jun
Balas

Barokallah, ingin mengulang perjalan Makkah Madinah lagi bu

01 Jun
Balas

Aamiin YRA

01 Jun

Barokallah, ingin mengulang perjalan Makkah Madinah lagi bu

01 Jun
Balas

Perjalanan yang selalu indah untuk dikenang. Membuat rasa "rindu" yang mengharu biru. Salam sehat dan sukses selalu ...bunda. Barakallah.

01 Jun
Balas

Alhamdulillah sudah diabadikan dalam sebuah buku.selamat membaca

01 Jun

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali