Sri Sugiastuti

Mendidik dengan hati, berdakwah lewat tulisan, membaca dengan kaca mata 5 dimensi,selalu ingin berbagi dan menjaga silahturahmi. Tulisan adalah warisan yang ber...

Selengkapnya
KAPAN SEBAIKNYA ANAK DIRANGSANG PIKIRANNYA DENGAN MASALAH?

KAPAN SEBAIKNYA ANAK DIRANGSANG PIKIRANNYA DENGAN MASALAH?

Pertanyaan dari judul di atas bisa dijawab dengan kalimat singkat yaitu “ Sedini mungkin” ketika anak sudah bisa diajak komunikasi dan ditunjukkan mana yang baik, mana yang buruk, mana yang boleh mana yang tidak.

Anak yang tumbuh dan berproses menjadi dewasa, tidak cling, atau secara instant “ prok-prok jadi apa” ala Pak Tarno si tukang sulap itu. Cara kerja otak anak harus dirangsang agar peka terhadap suatu masalah.

Merangsang pikiran anak itu ada seninya. Bisa dengan permainan, simulasi, atau memberi contoh dengan pengandaian. Maka tantang anak dengan pertanyaan “Bagaimana seandainya...” Ini pertanyaan yang sangat mendidik. Anak dirangsang untuk berpikir.” berpikir tentang bagaimana menjadi bintang yang besar yang dikagumi banyak orang dan diharapkan kehadirannya.

Dalam merangsang pikirannya orang tua juga bisa menceritakan berbagai masalah kecil yang sedang dihadapi temannya. Ketika temannya masih suka minum susu pakai botol, atau ada temannya yang sering diejek, bisa juga kejadian yang sering dilihat orang tua dan menjadi bahan untuk merangsang pikiran anak agar kritis menghadapi masalah.

“Coba menurut Mba Alin, kalau sudah besar masih ngompol itu gimana supaya tidak ngompol lagi?”

“ Kasian ya temanmu si Dedi masak tiap hari dapat nilai telor ceplok terus, Mas Alvi bisa bantu dengan belajar bersama kan! Biar tidak selalu diejek temannya”

Dengan melibatkan anak agar peduli dengan temannya atau orang yang membutuhkan pertolongan, maka memori anak terbiasa dengan kejadian tersebut. Ini jadi latihan bagi dirinya untuk bisa menghadapi masalah yang lebih berat kelak.

Berbagai cara sederhana dengan menyuguhkan masalh kecil yang kerap dihadapi teman, atau saudaranya, lalu kita ajak si anak untuk berpikir, maka akan tercetus ide-ide cemerlang dari sang anak, dan akan terasah terus ketika ia mulai peduli dengan teman atau saudaranya yang menghadapi masalah.

Mengingat pentingnya anak dirangsang dalam menghadapi masalah, maka sudah tidak zamannya lagi ketika orang tua justru banyak menutupi kebohongan atau memberikan keterangan palsu agar anak terbebas dari berpikir terlalu berat.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Jazakillah khoir untuk pengetahuannya ini Bunda. Baarakallah.

08 Apr
Balas

Jazakillah Khoir Bu Nana

10 Apr

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali