Sri Sugiastuti

Mendidik dengan hati, berdakwah lewat tulisan, membaca dengan kaca mata 5 dimensi,selalu ingin berbagi dan menjaga silahturahmi. Tulisan adalah warisan yang ber...

Selengkapnya
KEHAMILAN ITU

KEHAMILAN ITU

KEHAMILAN ITU

Oleh : Sri Sugiastuti

Layaknya wanita yang baru pertama kali hamil, Bunda juga menyiapkan ritual tujuhbulanan. Ritual yang sesungguhnya dalam Agama Islam tidak ada tuntunannya karena, Ruh ditiupkan ke janin ketika usia kandungan 4 bulan. Acara Tingkepan atau tujuhbulanan lebih pada mengikuti tradisi yang biasa dilakukan oleh para orangtua zaman dulu.

Mandi dari air tujuh sumber, berganti baju sebanyak tujuh kali dengan tujuh macam kebaya dan kain, memecah kelapa cengkir untuk memprediksi bayinya nanti laki laki atau perempuan, belum lagi makanan yang dibagikan ke para tetangga berupa Nasi punar yang diwadahi piring dari tanah liat, dihiasi janur lengkap dengan lauk tujuh macam, masih ditambah rujak.

Berharap proses melahirkannya mudah, dan bayinya tumbuh sehat, tidak ngiler atau ngeces bila sudah di luar kandungan. Ritual itu kami jalani, menuruti kemauan orangtua tidak ada salahnya. Aku pun semakin rajin control ke dokter, ketika hamil muda cukup sekali dalam sebulan, tapi memasuki usia janin tujuh bulan control menjdai dua kali dalam sebulan.

Dokter mengatakan bayiku sehat. Waktu itu masih sedikit dokter yang melengkapi ruang prakteknya dengan USG, jadi belum bisa diprediksi, bayiku kelak, cewek atau cowok. Aku sendiri tak masalah cowok atau cewek yang penting lahir dengan mudah aku dan bayiku sehat. Menginjak usia kandungan bulan ke delapan aku belum cuti, rencana cuti baru ku ambil seminggu sebelum melahirkan, jadi aku punya waktu agak lama menyusui bayiku.

Anak Pak Ardani yang terakhir baru berusaha 2 tahun, ketika aku hamil tua. Sebenarnya aku ingin membawanya kumpul bersama kami. Pak Ardani tidak ingin berpisah dengan anaknya yang lain. Tak ingin anaknya kelak protes mengapa aku dititipkan ke Eyang sedang kakak kakaknya tidak. Jadi dalam keadaan hamil tua aku ngurusi Aji anak bungsu Pak Ardani yang baru aku ambil dari rumah Eyangnya.

Perlu adaptasi untuk anak sekecil itu. Dia belum terbiasa tidur dengan ku atau ayahnya. Kadang di malam hari aku bergantian dengan Pak.Ardani menggendongnya sampai dia terlelap. Sesekali dia terbangun maka dia akan menunjuk arah pintu, seakan mengatakan aku mau ke rumah Eyang. Saat saat seperti itu bukan hal yang menyenangkan. Aku harus bisa mengambil hatinya. Padahal aku sendiri sedang berbadan dua dan sangat ingin dimanja.

Sepulang dari sekolah, aku merasa ada yang terjadi dengan kandunganku: “Bunda dari tadi aku tidak merasakan gerakan di dalam perutku? Jangan jangan aku mau melahirkan Bun..” Aku lapor ke Bunda tentang perutku yang kurasa tidak seperti biasa. Bunda memberi saran kepadaku segera ke Bidan yang tinggal tak jauh dari rumahku. Bidan itu pun memeriksa kandunganku, dengan alat sederhana yang seperti corong dan ditempelakn di telinganya.

“Ah tidak apa apa. Detak jantungnya lemah, malah kelihatannya sudah masuk panggul bagian kepalanya”. Istilahnya sudah mapan. Aku pun kembali ke rumah dan mengatakan pada Bunda kalau semua baik baik saja. Tapi perasaanku tidak enak. Biasanya bayi dalam perutku hampir setiap 15 menit ya nendang, nyikut, atau mungkin senang erobik, saat itu aku tak merasakan apa apa, dan dia tenang tenang saja. Bunda datang dan mengelus perutku.:” Yuk nduk, kita ke dokter saja Bunda curiga ada sesuatu yang tidak beres”.

Diantar Bunda dan adikku yang waktu itu sudah coas di salah satu rumah sakit, ikut menemaniku. Dokter dengan alat yang lebih canggih memeriksa detak jantung bayiku. Adikku dan Bunda langsung tegang, karena dia tahu apa yang terjadi. Tanpa mendahului kehendak Allah mereka tahu bahwa janinku sudah tidak bernyawa. Tidak terdengar sama sekali detak jantungnya.

Perlahan Bunda menjelaskan apa yang terjadi. Jadi sudah dua hari ini aku menggendong bayiku yang sudah tak bernyawa, betapa bodohnya aku. Kuingat ingat apa yang jadi penyebabnya. Dokter mengatakan, bisa dikarenakan kaget, atau memang janinnya yang lemah. Akhirnya aku teringat kejadian beberapa hari yang lalu selain aku ikut menggendong Aji di malam hari, aku pulang sekolah naik metro mini dan duduk di bagian belakang, ketika tiba tiba metro mini itu melewati polisi tidur yang cukup tinggi, sedang kecepatannya tidak dikurangi. Aku hampir jatuh. Untung aku segera memegang salah satu penumpang yang berdiri di depanku.

Dokter memutuskan aku harus dirawat, bayi itu harus segera dilahirkan kalau tidak nyawaku ikut terancam, aku bisa keracunan air ketuban. Aku diberi pencahar agar bisa BAB sehingga perutku bersih dari kotoran, perawat atas perintah dokter memberi suntikan yang gunanya untuk memacu agar otot perutku kotraksi dan ada pembukaan untuk jalan lahir.

Inilah pertama kali aku merasakan mulas yang luar biasa. Ini pengaruh suntikan yang digunakan untuk memacu agar terjadi kontraksi dan bayi bisa lahir normal. Hamper 6 jam aku menahan mulas yang berkepanjangan. Dokter belum datang padahal aku sudah tidak tahan, aku ingin menyelesaikan tugas ini secepatnya. Tapi justru perawat melarang aku mengejan: Tunggu dokter ya Bu..nanti robeknya tidak beraturan”. Jelas seorang perawat.

Dokter datang tergopoh gopoh, maklum dia terjebak macet. Dia memakai perlengkapannya menyemprot sesuatu di pintu kelua itu dan mengguntingnya. Baru aku diminta menekuk kakiku dan mengejan sambil ambi nafas. Aku berharap akan mendengar suara tangisan yang keras dari pintu lahir itu seperti yang pernah ku lihat ketika menonton film proses melahirkan dari pendidikan sex yang pernah diajarkan.

Itu hanya halusinasi. Bayiku diam membisu berwarna kebiruan dengan berat 2,3 kg. Perasaanku hampa. Aku baru saja kehilangan bayi yang aku harapkan bisa menjagaku di hari tua. Dia disucikan, dikafani, dan dimakamkan layaknya orang meninggal. Pak Ardani memberinya nama Muhammad Wukir Abadi.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bunda aku jadi terharu.. Sabar ya Bunda..

10 Nov
Balas

kisah 30 tahun yang lalu dan masih terekam di benak ini

11 Nov

Sedih banget ceritanya Bunda...

10 Nov
Balas

Itu lah bagian dari takdir saya

11 Nov

Persis. Kejadian yang sama saya alami ketika kehamilan 6 bulan anak kedua. Bayi itu diam tiba-tiba tidak bergerak di dalam rahim saya. Ternyata, dia sudah diambilNya sebelum sempat lahir ke dunia. Bayi itu kami beri nama MAWADDAH. Bunda selalu penuh dengan kisah-kisah kehidupan dengan segenap rasa. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah, bunda.

10 Nov
Balas

Bayi itu kelak akan menjemput kita di surga. Asal kita ikhlas dan yakin bahwa anak itu sekedar titipan dan ujian, bagi kita hamba Allah yang taat pada-Nya

10 Nov

Terharu bund, namun memang tdk semua yg kita inginkan harus terjadi. Sukses selalu dan barakallah

10 Nov
Balas

Takdir selalu berkata lain dengan apa yang kita harapkan. Terima kasih Bu Siti, Sehat selalu ya

10 Nov

Sabar ya Bun. Allah pasti akan menggantinya dengan yang lebih baik. Aamiin

10 Nov
Balas

Insyaallah sabar, syukur dan ikhlas selalu ada di ahti ini

10 Nov

Ada ibrah dari setiap kejadian yang kita alami...

10 Nov
Balas

Bagi orang yang beriman dan meyakini bahwa semua sudah atas izin-Nya

10 Nov

Segala perihal kehidupan selalu mengajarkan kita untuk menjadi hamba yang lebih baik, lebih sabar, letih tabah, lebih tegar dan lebih lebih lainnya. Semoga selalu sehat dan makin sukses bunda. Barakallaah

10 Nov
Balas

Aamiin YRA, Tercurah doa yang sama buat Bu Nurmalia nun jauh disana

10 Nov

Jadi sedih dan haru...

10 Nov
Balas

Itu lah suatu kenyataan yang harus dihadapi, Ujian dan keakutan sering hingga tanpa diundang

10 Nov

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali