Sri Sugiastuti

Mendidik dengan hati, berdakwah lewat tulisan, membaca dengan kaca mata 5 dimensi,selalu ingin berbagi dan menjaga silahturahmi. Tulisan adalah warisan yang ber...

Selengkapnya
PINANGAN DATANG

PINANGAN DATANG

PINANGAN DATANG

Oleh : Sri Sugiastuti

“Dialah yang menciptakan kamu dari jiwa yang satu (Adam) dan dari padanya Dia menciptakan pasangannya, agar dia merasa senang kepadanya…..(QS,Al-A’raaf 7:189)”

Pak Ardani yang baru empat bulan menduda secara tiba tiba melamarku, sungguh membuatku tak habis pikir dan merenung. Apakah dia memang jodohku?

Berdasarkan kriteria apa dia meminangku. Aku seorang guru muda dari kota kecil, tidak cantik bila dibanding dengan guru muda lain yang ada di sekolah tempat kami mengajar. Tidak pernah menaruh rasa simpati, apalagi membayangkan dia menjadi suamiku. Jauh...dia sama sekali tidak ada dalam peta kehidupanku.” Dalam sepinya malam hatiku jadi galau

Lain aku, lain Bunda. Bunda berusaha agar aku mempertimbangkan lamaran itu

”Aku tahu Nduk, jiwamu hampa, Bunda tidak rela kau mondar-mandir ke Solo mengejar impianmu yang tidak mungkin akan menjadi kenyataan. Satria itu sudah jadi milik orang lain.” Bunda berulang selalu mengingatkanku untuk melupakan mas Satria.

Bunda paham, siapa aku. Buah hatinya yang pendiriannya labil, mudah terpengaruh, angin-anginan, mudah rapuh. Kadang ceria, tapi dalam hitungan menit bisa langsung uring-uringan tanpa sebab. Bunda merasa jiwaku sakit. Itu lah sebabnya ketika aku secara tidak sadar pernah cerita tentang Pak Ardini yang sibuk, yang meminta aku mengajar di sekolah yang dia pimpin, dan kepribadiaannya yang aku anggap galak, dijadikan alasan Bunda datang ke sekolah menemui Pak Ardani dan memintanya agar bisa membimbingku.

Mungkin alasan itu juga yang dijadikan alasan Pak Ardani meminangku. Kami berasal dari Solo, aku sedang patah hati dan mungkin juga merasa kasihan, karena aku sudah berumur 25 tahun dan belum menikah. Atau ada pertimbangan lain yang membuat Pak Ardani berani ke rumah mengunjungi keluargaku.

Pada kunjungan berikut, Bunda setuju dengan usul Pak Ardani memperkenalkan anak anaknya padaku. Aku sendiri mengiyakan dengan setengah hati.

”Pokoknya jangan salahkan aku bila aku tidak bisa menerima mereka, atau aku tidak suka dengan Pak Ardani, seandainya hatiku tetap menolak, tolong jangan paksa aku!” Itu ultimatum yang kusampaikan di depan Bunda sebagai jawaban dari usul Pak,Ardani.

Di hari minggu pagi datanglah Pak Ardani dengan kedua anak lelakinya, yang sulung berusia 7 tahun, dan adikknya 4 tahun. Ketika aku menyalami mereka dan menatap pandangannya, justru ada yang bergetar di hatiku, bukan rasa benci, takut atau marah, tapi hatiku terketuk.

” Anak sekecil itu sudah kehilangan ibu,batinku bicara.

Kami pergi ke Monas, menikmati udara pagi yang segar, mereka berlarian dan sibuk dengan mainannya. Sedang aku dan Pak Ardani membuka pembicaraan yang awalnya sangat kaku, bagaikan atasan dan anak buah. Sikap dan gayanya yang biasa ku lihat di sekolah tidak tampak sama sekali.

Hmm, rupanya orang ini punya kepribadian ganda. Dia bisa tertawa lepas, bergurau dan begitu over protect terhadap aku dan anak anaknya.” Padahal Pak Ardani yang aku kenal selama ini adalah seorang atasan yang galak dan ngga ada ramahnya sama sekali.

Sejak perkenalan itu, kami sering menghabiskan hari libur bersama, bisa ke Ancol, Kebun Binatang, atau ke tempat rekreasi lain untuk pendekatan yang lebih akrab diantara kami. Kadang kami juga mengunjungi si bungsu yang masih dititipkan di rumah tantenya Pak Ardani.

Istri Pak Ardani meninggal setelah dua hari melahirkan anak ketiganya. Terpaksa bayi itu dititipkan di Rumah Sakit selama dua bulan, sampai akhirnya bayi itu dirawat Tante Asih. Hmm bayi mungil yang lucu dengan mata lebar seperti mata BJ Habibie, dan mulutnya yang munggil membuat aku terenyuh melihatnya. Seharusnya dia ada dalam pelukan hangat seorang ibu yang menjaganya sepenuh hati. Nyatanya sang Ibu pergi selamanya setelah jihad melawan maut dua hari setelah dia dilahirkan secara Caesar.

Berita Pak Ardani melamarku jadi bahan pembicaraan di sekolah. Berbagai komentar pasti ada, ada yang menanyakan langsung ke Pak Ardani dan aku, atau mereka membuat opini sendiri tentang berita lamaran itu. Selalu saja ada like dan dislike. Hal ini juga yang membuat kami mempercepat pernikahan kami. Awalnya Bunda menyarankan kami bertunangan dulu , lebih mengenal satu dan yang lainnya terutama untuk bisa beradaptasi sama anak-anak.

Tapi untuk menghindari fitnah, apalagi status Pak Ardani yang duda pernikahan itu dipercepat. Karena aku anak sulung dan Bunda merasa ini pertama kali dia menikahkan putrinya, jadi walau waktunya singkat, Bunda tetap menyiapkan yang terbaik menurut ukurannya.

Prosesi akad nikah pagi hari pukul 8.00. Ini peristiwa paling mengharukan dan sangat penting dalam hidupku. Proses dimana aku melepas masa lajangku. Kuserahkan hidupku kepada seorang duda beranak tiga yang tidak aku cintai. Ketika aku mohon doa restu kepada ayah dan bunda, juga kedua mertuaku.

Tak kuasa aku menahan tangis, semua tingkah laku dan prilaku buruk yang pernah kualami ketika masih anak sampai aku lulus kuliah, terbayang di wajahku. Mampu kah aku mendidik anak-anak ku dengan baik, sanggupkah aku menjalani hidup sebagai ibu tiri dengan tiga anak yang masih kecil-kecil? Aku yang kemaren masih semau ku sendiri dan tidak punya tanggungjawab, mulai saat ini sudah menjadi istri sekaligus jadi seorang ibu.

Bersambung

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Wowwww sesuatu nih ceritanya, sukses selalu dan barakallah

08 Nov
Balas

anda penasaran ? Ditunggu lanjutannya

08 Nov

Sepertinya kisah ini bakal menarik..Lanjuut Bunda Astuti..

08 Nov
Balas

Lanjut yaa Siap Selamat beraktifitas ya

08 Nov

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali