Sri Sugiastuti

Mendidik dengan hati, berdakwah lewat tulisan, membaca dengan kaca mata 5 dimensi,selalu ingin berbagi dan menjaga silahturahmi. Tulisan adalah warisan yang ber...

Selengkapnya
PRAHARA DATANG  (2 ) DEBURAN OMBAK WAKTU

PRAHARA DATANG (2 ) DEBURAN OMBAK WAKTU

Marwoto sudah bisa diajak bicara walau suaranya masih lemah. Terlihat di raut wajahnya yang kelelahan dan menahan rasa sakit. Diah hanya memandangi wajah suaminya yang hampir dilupakan. Sejak kesibukan mereka dan sikap Marwoto yang arogan Diah memang berusaha untuk mengenyahkan wajah itu dari hatinya. Walaupun Marwoto suaminya tapi Diah sudah “mati rasa” baginya Marwoto hanya sosok yang memberi kebahagiaan semu saja.

Diah menyandarkan tubuhnya di kursi yang tak jauh dari tempat Marwoto berbaring. Tiba-tiba terdengar ada sms masuk dari HP Marwoto. Selama ini dia tidak pernah membuka HP suaminya. Tapi tanda pesan itu begitu menggoda. Hatinya bimbang.

“ Buka ngga ya?Ah buat apa? Tapi kalau nanti ada sesuatu yang penting, padahal kondisi Mas Oto masih seperti ini, siapa yang mau menghandle semua urusannya? Aku kan istrinya.” Hatinya berdiskusi sendiri.

Akhirnya diraihnya HP itu dan dibacalah sms yang masuk di inbox itu

“ Siang Bos, pesanannya sudah ada. Foto bisa dilihat di MMS, yang SMA atau Mahasiswi semua masih virgin.” Gubrak. Diah membaca sms itu berulang-ulang.

“Ini sms beneran apa kerjaan orang iseng sih? Perlukah ku tindaklanjuti masalah ini? Kondisi Mas Oto masih seperti ini. Seandainya tadi pagi dia tidak terkena serangan jantung, mungkin sebentar lagi dia sudah happy-happy dengan pasangan kencannya.” Hati Diah jadi berandai-andai.

Mungkin Allah memang ingin membuka aib Marwoto di hadapan Diah. Sudah saatnya semua terbuka terang benderang. Keburukan Marwoto selama itu ditunjukkan Allah secara mudah. Anehnya hati Diah tidak terbakar apa cemburu. Yang ada di hatinya adalah rasa malu pada dirinya sendiri, dan iba kengan keadaan Marwoto saat ini.

Diah malu memiliki suami seperti Marwoto yang amoral, suka daun muda, menghalalkan segala cara, egois, dan masih banyak sifat dan sikap Marwoto yang membuatnya hina di hadapan Allah. Selama ini Diah keliru menilai siapa suaminya sebenarnya. Harusnya Diah bisa marah dan hatinya luka mengetahui kebejatan suaminya.

“ Hmm bukan saat yang tepat untuk membahas masalah ini. Kesembuhan Mas Oto dan follow up dari dokter yang dibutuhkan saat ini. Nanti saja kalau Mas Oto sudah sembuh, aku tanyakan maunya gimana.” Diah berusaha memupus kegalauan hatinya.

Selama Marwoto dirawat di RS, otomatis Diah bolak-balik Solo-Yogya. Mau dipindah ke RS Solo koq malah ribet.Apalagi hasil check up dan Scanning juga tidak terlalu baik. Marwoto harus rajin kontrol, diet, dan minum obat secara rutin. Aktivitasnya juga tidak boleh yang terlalu berat. Olah raga yang dianjurkan hanya jalan cepat. Ada indikasi penyempitan pembuluh darah di jantungnya.

Tepat sepuluh hari di rumah sakit Marwoto diizinkan pulang. Kondisinya membaik, walau berat badannya turun hampir 4 kg. Merawat suami sakit, mondar-mandir Solo Yogya bukan hal yang ringan, tapi Diah menjalaninya dengan enjoy. Tiada keluh kesah di hatinya. Dia usahakan membagi waktunya dengan baik. Diah sadar kewajibannya sebagai seorang istri yang harus siap setiap saat melayani suaminya, apalagi dalam kondisi pasca sakit.

Sebenarnya Diah ingin meluruskan masalah SMS yang mengganggu pikirannya. Tapi mampukah Diah memulainya?

“ Kalau aku mencari tahu tentang kebenaran SMS itu apakah Mas Oto tidak marah dan tersinggung? Lagi pula untuk apa aku mengurus masalah yang belum tentu kebenarannya?’ Semakin dihindari semakin bermunculan pertanyaan-pertanyaan yang mengarah keingintahuan Diah.

Ketika Diah bingung memulainya justru Marwoto yang membuka pembicaraan tentang SMS itu.

“ Mama sudah baca dan lihat MMS ngawur itu ya?” Tanya Marwoto sambil memperhatikan ekspresi wajah Diah.

“ Kalau sudah kenapa, kalau belum kenapa? Jawab Diah ringan

“ Mama percaya dengan SMS itu? Dan yakin kalau Papa seperti yang diSMS kan itu?” Desak Marwoto.

Melihat gaya Marwoto yang salah tingkah Diah menahan senyum. Orang kalau bersalah dan berbohong pasti terlihat dan Diah tahu itu.

“ Benar atau tidak yang tahu persis kan Papa! Kalau mau dilanjut silahkan saja!Nomernya masih ada kan! Mama juga ngga tahu ini sudah yang keberapa, dimana, dengan siapa, dan apa yang Papa lakukan.” Sambil menerawang jauh Diah menimpali pembicaraan itu.

“ Loh koq Mama menanggapinya serius banget? Itu kan kerjaan orang iseng juga bisa.” Kilah Marwoto membela diri.

“ Sudahlah Mas ngga usah dibahas, nanti malah penyakit jantungmu kumat, Mama yang repot. Kalau memang cuma main-main dan ngga pernah pesan ayam kampus, atau perex (perempuan experiment) ya ngga masalah.”Jawab Diah sinis.

Diah tidak ingin melanjutkan perdebatan itu. Biar waktu yang akan membuktikan benar atau salahnya SMS itu. Paling tidak saat ini Diah harus siap bila ada kejutan-kejutan berikut tentang kebobrokan kelakuan suaminya. Atau hal apapun tentang suaminya yang kehidupannya di mata Diah sangat abu-abu.

******

Marwoto berangsur pulih. Dia sudah ke kantor seperti biasa.Diah bisa full konsentrasi ngurusi rumah modenya yang sempat terbengkalai sejak Marwoto sakit. Walau banyak asistennya tapi tetap bda kalau Diah yang secara langsung ikut mengawasi.

Sistem jualan Diah yang kadang semi kekeluargaan jadi merepotkan pegawainya. Banyak barang-barang entah itu gaun, sprei, bed cover atau tas yang belum ada harganya. Jadi orang yang suka barang itu ambil dulu harga dan bayar belakangan. Diah sangat memanjakan pelanggannya. Cara seperti itu membuat pelanggannya nyaman belanja di tempat Diah. Mungkin banyak orang bertanya

“ Untuk bisa jadi bisnis woman seperti Diah berapa modal yang harus dimiliki? Bagaimana caranya? Lalu perputaran uangnya seperti apa? “Rasa penasaran orang ingin tahu.

Padahal Diah dalam menentukan dan membeli barang dagangan hanya berdasarkan feeling dan sesuatu yang disukainya. Ternyata selera pasar ngga beda jauh dengan selara Diah. Itulah sebabnya Rumah Mode Diah selalu banjir pengunjung dari berbagai lapisan. Promosi yang paling ampuh biasanya hanya dari mulut ke mulut.

Bersambung

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Semoga Diah bisa melewati semuanya dengan baik. Baarakallah...Bunda.

12 Apr
Balas

Aamiin YRA perjalanan masih panjang...

12 Apr

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali