Sri Sugiastuti

Mendidik dengan hati, berdakwah lewat tulisan, membaca dengan kaca mata 5 dimensi,selalu ingin berbagi dan menjaga silahturahmi. Tulisan adalah warisan yang ber...

Selengkapnya
SUKSES VS GAGAL

SUKSES VS GAGAL

Agar kita tidak gagal dalam membentuk karakter baik untuk anak kita, maka waspadalah dengan hal atau prilaku orangtua yang kadang tanpa sadar melekat pada diri orangtua. Banyak contoh yang menyebabkan orangtua gagal dalam membentuk karakter baik untuk anaknya. Ini sebagian contoh prilaku salah yang kerap dilakukan orangtua, dan prilaku baik yang perlu diterapkan pada anak kita.

Sukses

· Ajari anak bertanggung jawab. Anak harus bisa bertanggung jawab atas apa yang sudah ia lakukan atau terjadi padanya. Misalnya ia baru saja memecahkan vas bunga kesayangan Bundanya, maka , katakan padanya dengan lembut, tidak dengan emosi ; “ Kalau jalan hati-hati, untung pecahan itu tidak mengenai kakimu.” “ Ingat itu, jangan diulangi lagi ya! Sekarang bantu Bunda ambil sapu dan tempat sampah! Supaya pecahannya tidak mengenai kaki adikmu."

Gagal

· Memutuskan dengan cara yang salah. Ketika anak tanpa sengaja membuaat kesalahan, biasanya emosi kita meledak; “ Siapa tadi yang memecahkan vas bunga Bunda? Sudah diingatkan kalau jalan hati-hati, masih saja srudak sruduk ! Kalau kena kakimu gimana? Ayo cepat, segera bersihkan!” Kalimat ini tertanam dalam jiwa anak bahwa dia telah membuat kesalahan, padahal dia tidak sengaja. Dilain waktu mungkin di akan membuat kesalahan yang sama.

Sukses

· Berkatalah jujur kepada anak. Untuk membujuk anak agar menghargai orangtua dan jerih payah kita dalam mendidiknya. Kita harus bicara jujur sebatas kemampuan berpikir anak. Katakan dengan bahasa anak siapa sebenarnya orangtuanya dan apa tujuan hidupnya.Ungkapkan dengan penuh kasih dan pengertian, sehingga kelak akan tertanam di benaknya, bagaimana orantuanya melimpahkan kasih sayang kepadanya

Gagal

· Membuat janji palsu. Untuk tidak bertele-tele, orangtua sering asal bicara pada anaknya. Orangtua tanpa sadar menciptakan kebohongan kecil; “ Ayo cepat makannya dihabiskan, nanti Bunda ajak ke Mall!” Padahal setelah selesai makan dan ditagih anaknya, orangtua tidak segera mewujudkannya, tapi mencari alasan lain ;” Nanti ya tunggu Ayah pulang.” Peristiwa ini dicatat di benak anak kalau orangtuanya pembohong.

Bersambung

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali